Dingin
itulah kamu. Dingin itulah ciri khasmu. Dan dingin itulah yang membedakanmu
dengan sosok pria lain.
Hey Tuan Es!
Hey Tuan Es bagaimana
kabarmu? Sedang apa? Sudah makan? Bagaimana dengan pekerjaanmu disana? Aku
rindu mendengar segala coletahanmu dan keluh kesahmu. Aku rindu bertukar
fikiran denganmu. Aku rindu membicarakan tentang masa depan kita. Ya kita; aku
dan kamu. Semoga itu bukan sekedar harapan kosongmu kepadaku.
Hey Tuan Es mengapa
kamu terus memberiku harapan disaat aku tak lagi ingin berharap? Aku sangat
mengenalmu Tuan Es. Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar untuk ku mengenal
sosok dirimu. Dengan begitu banyak cerita silih berganti diantara kita.
Hey Tuan Es. Maaf bila
aku tak bisa jauh darimu bukannya aku tak bisa. Kamu yang membuatku terlalu
bergantung kepada dirimu. Andai setelah kejadian yang lalu-lalu kamu tak selalu
mencariku kembali, mungkin aku masih bisa jauh darimu. Namun sekarang semuanya
sudat terlambat Tuan Es dan kamu harus bertanggung jawab. Ya bertanggung jawab
atas kesendirinku sekarang, bertanggung jawab atas keyakinan hatiku untukmu.
Hey Tuan Es aku tak
akan marah dan kecewa bila sekarang kita saling berjauhan dan lost contact,
tapi aku mohon Tuan Es datanglah kembali; mencariku. Seperti yang sudah kamu lakukan
selama tujuh tahun ini. Tuan Es datanglah kembali dengan semua janji-janji yang
akan kamu buktikan.
Hey Tuan Es jangan
terlalu lama menghilang, jangan lagi menunda kebersamaan kita, jangan biarkan
rasa sayang di antara kita berdua membuat kita semakin tersiksa.
Dari si Panas yang merindukan
si Dingin....


0 komentar:
Posting Komentar