Ntah
itu cinta atau bukan. Ntah sayang atau hanya perasaan kagum... tak ada yang
namanya jatuh cinta berulang kali dengan orang yang sama. Tak ada cinta yang
tumbuh pada orang sama namun aku merasakan ini pada dia. Dia yang ku fikir tak
akan berarti apa-apa untuk hidupku tapi ternyata dia adalah alasan aku bangkit.
Dia yang ku kira tak akan pernah ada cinta pada orang yang sama tapi dia mampu
membuat ku selalu jatuh cinta kembali kepadanya.
*Bruuuk* suara tas yang
aku lempar ke tempat tidur. Capeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee! Ntah mengapa dunia
kuliah yang aku jalani sekarang tak seindah bayangan aku sewaktu masa sekolah.
Huft. Aku menatap layar handphone. Kosong. Sepi. Tak ada notif. Yaiyalah jomblo
hahahaha.
Entah mengapa untuk
saat ini aku malas memulai hubungan dengan seseorang yang baru. Mungkin karena
dia. Ya dia. Dia yang meminta aku untuk menunggu. Dia yang secara tiba-tiba
hadir di kehidupan aku.
***
Enam tahun yang lalu
(2008)
*Bbbrrrrrttt* handphone
ku bergetar, satu pesan ku terima. Tertera sebuah nomer tanpa nama. Siapa? Satu kata yang tiba-tiba muncul
di benakku. Aku pun memutuskan untuk membalasnya.
“Hai”
“Ini siapa?”
“Ini Doni, ini Alifa
bukan?”
Akhirnya pesan singkat
yang hanya berawal dari sapaan ‘hai’ berlanjut hingga hari ini. Ya, aku mengenalnya
hanya lewat satu kata ‘hai’. Perkenalan kita berlanjut setelah pesan singkat
itu hadir di handphoneku. Kita semakin sering bertukar kabar, bertukar cerita,
dan akhirnya perasaan itu hadir... perasaan yang awalnya tidak mungkin hadir
untuknya...
Beberapa hari
perkenalan kita, dia mengajakku bertatap muka. Ini pertama kali kita bertemu setelah
beberapa hari bertukar kabar hanya melalui pesan singkat. Setelah pertemuan
itu, hubungan kita semakin dekat hingga akhirnya dia menyatakan perasaannya dan
meminta aku untuk menjadi seseorang yang spesial di hatinya. Seneeeeeeeng!
Ternyata perasaan ku tak bertepuk sebelah tangan. Dan akhirnya hari itu menjadi
hari ‘jadian’ kita.
Seminggu setelah hari
jadi kita, dia menghilang tak ada kabar. Aku pun memutuskan bahwa hubungan kita
telah berakhir walau tak ada kata ‘pisah’ diantara kita berdua, dan aku
menjalin kembali hubungan dengan seseorang yang baru. Berharap aku dapat
melupakannya. Namun, beberapa bulan
setelah dia menghilang, ada nomer asing yang menghubungiku.
“Ini Alifa?” ujarnya
dalam ranjutan kata
“Iya, ini siapa?”
“Ini Heri temennya
Doni” Jleeeeeeeeeeeeeebbbb! Mengingat kembali nama itu. Rasanya mengulang
kembali hal yang sudah aku coba untuk lupakan.
“Oh iya, ada apa?”
“Ngga ada apa apa kok,
lagi apa?”
Hubungan aku dengan
Heri pun menjadi dekat sebagai kakak adik. Walau ku fikir rasanya aneh namun
aku merasa nyaman Heri menjadi ‘kakak-kakakan’ aku saat itu. Setahun sudah dia
menghilang. Dan hampir setahun pula aku dekat dengan temannya. Ntah mengapa aku
merasa biasa saja dengan temen Heri walau awalnya aku berfikir bahwa aku akan
menyukai teman Heri tapi ternyata tidak pernah ada perasaan spesial yang
hadir.
Suatu hari Doni menghubungiku
menggunakan nomernya Heri. Antara senang, kesel, sedih, kecewa semua campur
aduk menjadi satu. Satu pertanyaan yang muncul dibenakku ‘kenapa baru
sekarang?’ setelah sekian lama aku mengenal Heri dan deket tapi kenapa baru
sekarang Doni mencoba mengubungiku?:”)
“Apa kabar fa?” kata-kata yang sangat ingin aku dengar dari setahun yang lalu:')
“Baik kok Don, kemana
aja?”
“Maaf aku ngilang
begitu aja, aku sakit aku ngga mau buat kamu khawatir sama keadaan aku”
“Sakit apa?”
“Cuma sakit biasa aja
kok”
“Sakit biasa tapi
sampai ngga ngabarin?”
“Kan udah aku bilang aku
ngga mau buat kamu khawatir”
“Tapi paling ngga
kabarin kek biar aku ngga khawatir, biar aku ngga nyariin. Kamu kaya gini malah
buat aku khawatir tau ngga sih”
“Iya aku tau kok aku
salah udah berbuat kaya gitu”
“Bodoh, bodoh, bodoh
banget sih kamu!”
“Kamu tuh cuma orang
asing yang hadir dikehidupan aku dan ngerubah kehidupan aku!” Orang asing? Ngerubah
kehidupan dia? Ntahlah aku tak mengerti apa maksud dia saat itu... Dan akhirnya
percakapan kita berakhir dengan pertengkaran...
“Kenapa sama Doni?”
“Kenapa apanya?”
“Berantem ya?”
“Tanya aja sama dia” Huft.
Kangen banget padahal tapi malah berakhir dengan perdebatanL.
Keesokan harinya Doni menghubungiku kembali menggunakan nomernya sendiri.
“Fa”
“Ini siapa?”
“Ini aku Doni, aku
minta maaf ya buat kejadian kemarin”
“Iya gapapa kok, aku
juga minta maaf udah ngatain kamu bodoh”
“Hahaha gpp kok aku
emang bodoh, bener yang kamu bilang”
Dan akhirnya kita pun berbaikan dan
kembali dekat... Namun ada yang aneh ketika Doni hadir kembali Heri menjauh
dari aku. Aku pun memutuskan untuk menghubunginya terlebih dahulu.
“Heh, kemana aja Her?”
“Ngga kemana-mana kok, gimana
sama Doni?”
“Baik-baik aja kok,
kita kaya dulu lagi hehe”
“Bagus deh berarti
tugas gua ngga sia-sia”
“Tugas?Maksudnya?”
“Lu ngga tau? Doni kan
nitipin lu sama gua selama hampir setahun ini, awalnya Doni mau ngehubungi
lu langsung tapi dia ngerasa bersalah
dan ngerasa ngga enak kalo tiba-tiba hadir lagi di kehidupan lu, akhirnya dia
nyuruh gua buat jagain lu”
Hmmm rasanyaaaaa....
Ternyata selama ini Doni tak pernah menghilang, dia mengawasi ku dari jauh...
Ada rasa bersalah mengapa waktu itu aku malah berusaha untuk melupakannya. Dan
memilih menjalin hubungan dengan orang lain.
Saat ini aku masih
menjalin hubungan dengan seseorang bernama Dion dan ketika aku kembali dekat
lagi dengan Doni aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan ku dengan Dion. Jahat
memang. Namun aku tak bisa membohongi perasaan ku lebih lama dan lebih jauh
lagi. Aku menyayangi Doni. Dan masih menyayangi Doni hingga hari ini. Lebih
baih aku jujur dari sekarang daripada aku terus berpura-pura menyayangi Dion...
5 Juli 2010
Doni menanyakan hal
yang tak kusangka...
“Fa sampe kapan kita
htsan terus?”
“Ngga tau Don, aku sih
terserah kamu aja”
“Masih mau jadi orang
spesial lagi di hidup aku?”
“Mau Don hehe”
“Akhirnya... aku kira aku
bakal di tolak sejak kejadian dua tahun yang lalu, jadi kita balikan?”
“Hmmm, menurut Doni?:p”
“Menurut Doni iya:P”
Akhirnya saat itu aku
kembali menjalin hubungan dengan Doni... Rencana Tuhan memang tak pernah ada
yang tau... Sehari setelah kita kembali Doni meminta relationship di facebook.
Aku kaget. Aku fikir dia tak akan melakukan itu, karena Doni termasuk pria yang
cuek dan tak terlalu suka bermain sosial media. Namun ternyata Doni tetap
mengakui aku sebagai pasangannya hahaha.
Aku fikir setelah kita
kembali Doni akan berubah namun ternyata Doni tetap sama. Tetap Doni yang sama
seperti awal aku mengenalnya tak ada sedikit pun yang berubah. Tetap pria cuek,
dingin dan seadanya tapi entah mengapa sifat itu yang membuat Doni berbeda
dengan pria lainnya. Kita hanya ber-smsan dari Doni sepulang sekolah hingga jam
10 malam. Disekolah Doni tak pernah membawa hp. Memang hubungan ku dengan Doni
tak seperti layaknya pasangan yang lain, yang selalu ber-smsan. Tapi justru itu
yang membuat aku selalu merasa waktu bersamanya menjadi waktu yang berharga.
Aku selalu merasakan rindu. Tak pernah merasa bosan. Walau hubungan kita flat
dan tak banyak yang istimewa. Namun kesederhaan itu yang membuat aku bahagia.
Hubungan ku memang tak mainstream seperti pasangan yang lainnya. Yang rajin
bertemu. Kita bertemu sebulan sekali karena memang waktu itu kita baru
menginjak masa putih abu-abu. Masih malu-malu. Masih belum mengerti bagaimana
menjalin hubungan yang sebenarnya. Walau saat itu aku sudah menjalin hubungan
dengan beberapa pria lain namun aku masih polos belum mengerti apa sebenarnya
itu ‘pacaran’ dan bagaimana menjalankan ‘pacaran’ itu hahaha.
Tak terasa 5 bulan
telah berlalu. Dan selama 5 bulan pun tak pernah ada masalah yang berarti di
hubungan kita. Doni selalu mengalah, selalu menghargaiku sebagai pasangannya,
tak jarang aku mengecek facebooknya untuk tau berhubungan dengan siapa saja dia
dan ternyata tak pernah ada hal yang membuat ku merasa cemburu. Aku heran namun
senang. Aku merasa bahwa Doni tau bahwa aku termasuk wanita yang sangat
pencemburu. Doni sangat menjaga perasaanku. Satu nilai tambah dari sisi Doni,
dia tahu bagaimana caranya menjaga perasaan wanita. Walau tak bisa dipungkiri
banyak wanita yang mencoba mendekatinya namun Doni selalu bisa menghindar.
Terkadang sifat dingin dan cuek Doni memang keterlaluan.
Ingin rasanya aku
melewati pergantian tahun dengan Doni. Namun harapan ku kandas karena Doni
tiba-tiba menghilang (lagi). Aku berusaha untuk menghubunginya namun tak pernah
mendapat jawaban. Aku merasa bodoh memberikan kesempatan kepada Doni.
Membiarkan dia melakukan hal ini (lagi) kepada ku.
Dua bulan berlalu, Doni
menghubungiku melalui facebook. Dia hadir tanpa rasa bersalah. Seolah-olah tak
ada hal yang terjadi di antara kita. Jahat bukna? Tapi ntah mengapa aku selalu
mempercayainya, selalu bisa memaafkan dan menerimanya kembali. Mungkinkah ini
cinta? Ku akui memang Doni pacar pertama ku walau dia bukan orang pertama kali
aku sayang. Namun semenjak ada dia aku mampu melupakan ‘orang yang kusayang
pertama kali’. Mungkinkah Doni cinta pertama ku?
Doni hanya menghubungiku
saat itu saja kemudian menghilang kembali. Dan aku memutuskan untuk menunggu
dia kembali... Enam bulan sudah
berlalu aku tetap bertahan dengan kesendirian ku. Hingga suatu hari aku
berkenalan dengan seseorang bernama Tian. Kita mulai dekat dan saling berbagi
cerita. Dan aku bercerita tentang Doni ke Tian karena aku berfikir Tian
memiliki fikiran yang dewasa. Tian menasehatiku agar aku belajar melupakan Doni
dan mencoba membuka hati untuk yang baru dan akhirnya aku mulai mencoba membuka
hati yang baru yaitu Tian. Walau jujur pada saat itu aku tak memiliki perasaan
apa pun kepada Tian. Meski aku sudah mempunyai pria lain di sisiku tapi pria
itu hanya mampu menggantikan disisiku bukan dihatiku. Seberusaha apapun aku
mencoba menyayangi pria lain tapi itu justru membuat perasaan ku semakin
terluka. Ragaku bersama dengan yang lain. Namun hati dan fikiranku hanya kepada
Doni. Walau di luar sana belum tentu Doni merasakan hal yang sama seperti apa
yang aku rasakan.
Dua minggu setelah aku
mencoba berjalan dengan Tian, Doni kembali. Ntah mengapa Doni selalu bisa
menemukan dan menghubungiku kembali walau saat itu aku sudah berganti nomer
berulang kali. Doni hadir membawa luka lama. Luka yang seharusnya kering kini
kembali basah.
“Fa”
“Don?”
Aku sudah hafal
bagaimana cara Doni dihidupku, cara dia memanggilku amat berbeda dengan yang
lainnya. Itu yang membuat ku mampu mengenalinya walau dia tak menyebutkan nama
terlebih dahulu...
“Maaf udah ngilang lagi
aku udah ngulang kesalahan yang sama”
“Udahlah ngga usah
dibahas lagi udah biasa”
“Aku tau kamu marah
tapi aku punya alasan”
“Alasan?Alasan apa
lagi?”
“Aku ketahuan pacaran
sama bokap dan aku disuruh milih kamu atau keluarga aku. Jujur saat itu aku ngga
bisa milih mangkanya aku ngejauh dari kamu aku ngga tau harus ngomong apa ke
kamu, bagi aku kalian berdua sama sama penting”
“Tapi akhirnya kamu
udah milih kan? Kamu milih keluarga kamu tanpa ngasih penjelasan sedikit pun ke
aku!”
“Aku tau kamu marah
banget sama aku tapi aku minta jangan jauhin aku, aku ngga bisa jauh dari kamu”
“Alibi”
“Kalau aku alibi kenapa
sekarang aku ngehubungi kamu lagi? Kenapa aku susah payah nyari nomer kamu?
Kenapa aku selalu muncul lagi dikehidupan kamu? Itu karena aku ngga bisa jauh
dari kamu walau aku suka ngilang tapi bukan berarti aku udah ngga sayang kamu”
Jleeeeeb! Dia bener
kalo dia ngga butuh aku, dia ngga mungkin ngehubungin aku lagi walau aku udah
berganti nomer berulang kali.
“Udah ah aku males”
“Udah punya cowo lagi?”
“Udah, kamu sendiri
udah punya cewe lagi?”
“Kenapa sih ngga bisa
nunggu aku? Kenapa harus punya cowo lagi? Belum, semenjak pisah dari kamu aku
ngga pernah berfikir untuk memulai lagi sama cewe lain”
“Masih nanya kenapa?
Ngga bisa nunggu? Asal kamu tau aku udah nunggu kamu setengah tahun! Aku selalu
nunggu kamu buat datang dan ngejelasin semuanya! Sekarang aku tanya kenapa kamu
selalu hadir disaat aku mau ngelupain kamu? Yakin ngga pernah memulai lagi sama
cewe lain?”
“Karena aku ngga mau kamu ngelupain aku karena aku ngga
pernah bisa ngelupain kamu. Kamu kerumah aku aja tanya langsung sama mama aku,
apa pernah aku dekat sama cewe lain selain sama kamu.” Percakapan ini membuat
aku mengulang kembali semua rasa sakit itu. Membuat ku merasakan kembali arti
menunggu. Dan seperti biasa percakapan kita selalu berhenti dengan perdebatan.
Ada sebuah pepatah
‘bila dia pergi tanpa alasan jangan biarkan dia kembali dengan alasan’ namun
pepatah ini tak berlaku untuk Doni. Aku selalu merasa apa yang diutarakan Doni
selalu jujur walau aku tak ingin mempercayai itu tapi hati ku mempercayainnya.
Bodoh kan? Memang bodoh. Namun apa daya aku pun tak bisa membohongi hatiku.
Doni selalu mampu membuat aku jatuh cinta berulang kali kepadanya. Jujur aku
tak pernah seperti ini kepada pria lainnya. Bagi aku kalau udah pisah ya udah
tapi ntah mengapa itu semua mampu jadi pengecualian untuknya.
*TBC*


0 komentar:
Posting Komentar