Sering
kita mendengar dari televisi atau lingkungan sekitar “kata-kata motivasi”
bahkan ada seorang motivator terkenal yang kita kenal yaitu bapak Mario Teguh
dalam acaranya yang bertemakan “Golden Ways”. Lalu bagaimana pendapat atau
reaksi kita setelah mendengar kata-kata motivasi itu? Pasti yang pertama kali
terpikir adalah “oh iya benar juga”. Lantas apa yang kita lakukan setelah
mendengar kata-kata itu? Apa kita akan melakukan perubahan? Atau kata-kata itu
hanya terbesit sekilas lalu menghilang? Semua kembali lagi ke kepribadian kita
masing-masing.
Salah
satu contoh adalah seorang mahasiswa bertekun mempelajari buku sampai malam,
tidak menghiraukan lelah dan kantuknya. Mengapa ia melakukan seperti itu?
Apakah yang mendorong ia untuk berbuat seperti demikian? Apa motif ia?
Dalam
kehidupan sehari-hari jarang kita dengan sengaja memperhatikan dan merenungkan
perbuatan-perbuatan teman-teman kita atau orang-orang lain demikian. Juga
terhadap perbuatan kita sendiri, seringkali kita tidak begitu menghiraukannya.
Padahal jika direnungkan, banyak hal-hal yang mengagumkan kita dan sangat
menarik bagi kita untuk menyelidikinya.
Dari
contoh tersebut diatas jelaslah agaknya bahwa: Yang dimaksud dengan motif ialah segala sesuatu yang mendorong
seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu. Atau seperti dikatakan oleh Sartin dalam bukunya Psychology Understanding of Human Behavior:
motif adalah suatu pernyataan yang kompleks di dalam organisme yang mengarahkan
tingkah laku/ perbuatan ke suatu tujuan atau perangsang. Apa saja yang
diperbuat manusia, yang penting maupun yang kurang penting, yang berbahaya
maupun yang tidak mengandung risiko, selalu ada motivasinya.
Juga
dalam soal belajar, motivasi itu sangat penting. Motivasi adalah syarat mutlak
untuk belajar. Di sekolah seringkali terdapat anak malas, tidak menyenangkan,
suka membolos, dan sebaginya. Dalam hal demikian berarti guru tidak berhasil
memberikan motivasi yang tepat untuk mendorong yang tepat untuk agar ia bekerja
dengan segenap tenaga dan pikirannya. Dalam hubungan ini, perlu diingat, bahwa
nilai buruk pada suatu mata pelajaran tertentu belum tentu berarti bahwa anak
itu bodoh terhadap mata pelajaran itu. Seringkali terjadi seorang anak malas
terhadap suatu mata pelajaran, tetapi sangat giat dalam mata pelajaran yang
lain.
Banyak
bakat anak tidak berkembang karena tidak diperolehnya motivasi yang tepat. Jika
seseorang mendapat motivasi yang tepat, maka lepaslah tenaga yang luar biasa,
sehingga tercapai hasil-hasil yang semula tidak terduga.
Apakah
ada hubungannya antara morif-motif dengan minat? The will to live yang seringkali dikatakan motif pokok dari semua
makhluk, bagi manusia tidak semata-mata merupakan keinginan, untuk tetap hidup
(tidak sakit atau mati), tetapi merupakan juga keinginan untuk hidup dalam
hubungannya yang aktif dengan lingkungannya. Motif tersebut tidak terutama
diarahkan untuk melayani kebutuhan-kebutuhan organis dan mendapat kehidupan
yang tidak disangka-sangka (tidak sengaja), tetapi diarahkan kepada obyek-obyek
dan orang-orang lain, melakukan sesuatu untuk mereka dan berpartisipasi dengan
apa yang terjadi di dalam lingkungan.
Motif-motif
obyektif menyatakan diri dalam kecenderungan-kecenderungan umum untuk menyelidiki (to explore) dan mempergunakan (manipulate) lingkungan.
Motif menyelediki (exploring motive) adalah jelas tampak pada hewan dan pada
manusia. Ia terlihat pada seorang bayi sebelum dapat memindakan dirinya;
mengamati dengan matanya, telinganya, dan mulutnya. Setelah anak makin besar
dan dapat berbicara, terlihat motif menyelidiki itu dalam pernyataan-pernyataan
yang selalu diajukannya, mendengarkan orang lain berbicara, “merusak” alat-alat
permainannya, dan sebagainya. Motif mempergunakan lingkungan, juga terlihat jelas
pada binatang dan manusia.
Contoh: Anak kucing bermain dengan bola; anak anjing
mempermainkan sebilah kayu; dan sebagainnya. Pada anak manusia, perbuatan yang
demikian itu dilakukannya lebih baik lagi, karena manusia memiliki
potensi-potensi yang lebih daripada hewan.
Dalam kenyataan sehari-hari motif
mempergunakan lingkungan dan motif menyelidiki itu seringkali menjadi satu. Dari eksplorasi dan manipulasi yang
dilakukan anak-anak itu lama-lama timbullah minat terhadap sesuatu. Dari perkembangan itu anak berkembang ke arah berminat/
tidak berminat kepada sesuatu. Sesuatu yang menarik minat ia hanya menyenangkan
atau dapat mendatangkan kepuasaan baginya, tetapi juga yang menakutkan.
Lantas apa hubungannya antara motif dan motivasi? Apakah
keduanya saling keterkaitan? Memang pengertian motif dan motivasi keduanya
sukar dibedakan secara tegas. Dalam konteks uraian terdahulu dapat dijelaskan
bahwa motif menunjukkan suatu
dorongan yang timbul dari dalam diri seseorang yang menyebabkan orang tersebut
mau bertindak melakukan sesuatu. Sedangkan motivasi
adalah “pendorongan”; suatu usaha yang didasari untuk mempengaruhi tingkah laku
seseorang agar ia tergerak hatinya untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga
mencapai hasil atau tujuan tersebut.
Menurut
Vroom, motivasi mengacu kepada suatu proses mempengaruhi pilihan-pilihan
individu terhadap bermacam-macam bentuk kegiatan yang dikendaki. Kemudian John
P.Campbell dan kawan-kawan menambahkan bahwa motivasi mencakup di dalamnya arah
atau tujuan tingkah laku, kekuatan respons, dan kegigihan tingkah laku. Istilah
itu pun mencakup sejumlah konsep seperti dorongan (drive), kebutuhan (need),
rangsangan (incentive), ganjaran (reward), penguatan (reinforcement), ketetapan
tujuan (goal setting), harapan (expectancy).
Motivasi mengandung tiga komponen pokok, yaitu menggerakkan, mengarahkan, dan menopang
tingkah laku manusia. Perbedaan antara motif dan motivasi serta pengertian
motivasi itu sendiri, yaitu: suatu usaha yang didasari untuk menggerakkan,
mengarahkan, dan menjaga tingkah laku seseorang agar ia terdorong untuk
bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu.
Mengapa
harus ada motivasi? Apakah motivasi memiliki tujuan tertentu? Tujuan motivasi
adalah untuk menggerakkan atau menggugah seorang agar timbul keinginan dan
kemaunnya untuk melakukan sesuatu sehingga dapat memperoleh hasil atau mencapai
tujuan tertentu. Bagi seorang guru, tujuan motivasi adalah untuk menggerakan
atau memacu para siswanya agar timbul keinginan dan kemaunnya untuk
meningkatkan prestasi belajarnya sehingga tercapai tujuan pendidikan sesuai
dengan yang diharapkan dan ditetapkan di dalam kurikulum sekolah. Sebagai
contoh, seorang guru memberikan pujian kepada seorang siswa yang maju ke depan
kelas dan dapat mengerjakan hitungan matematika di papan tulis. Dengan pujian
itu, dalam diri anak tersebut timbul rasa percaya pada diri sendiri; di samping
itu timbul keberaniannya sehingga ia tidak takut dan malu lagi jika disuruh
maju ke depan kelas.
Makin jelas tujuan yang diharapkan atau yang akan
dicapai, makin jelas pula bagaimana tindakan
memotivasi itu dilakukan. Tindakan memotivasi akan lebih dapat berhasil
jika tujuannya jelas dan disadari oleh yang dimotivasi serta sesuai dengan
kebutuhan orang yang dimotivasi. Oleh karena itu, setiap orang yang akan
memberikan motivasi harus mengenal dan memahami benar-benar latar belakang
kehidupan, kebutuhan, dan kepribadian orang yang akan dimotivasi.
Menurut anda apakah motivasi mempunyai teori-teori
tertentu? Bila ada teori apa saja kah itu? Motivasi terbagi menjadi beberapa
teori, yaitu:
·
Teori Hedonisme
Hedonisme
adalah suatu aliran yang didalam filsafat yang memandang bahwa tujuan hidup
yang utama pada manusia adalah mencari kesenangan (hedone) yang bersifat
duniawi. Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang mementingkan kehidupan
yang penuh kesengan dan kenikmatan.
·
Teori
naluri
Dorongan
naluri mempertahankan diri
Dorongan
mengembangkan diri
Dorongan
mengembangkan/ mempertahankan jenis.
·
Teori rekasi yang dipelajari
Tindakan
atau perilaku manusia tidak berdasarkan naluri-naluri, tetapi berdasarkan
pola-pola tingkah laku yang dipelajari dari kebudayaan di tempat orang hidup.
Teori ini disebut juga teori lingkungan
kebudayaan.
·
Teori daya pendorong
Perpaduan
antara “teori naluri” dengan “teori reaksi yang dipelajari”. Daya pendorong
adalah semacem naluri, tetapi hanya suatu dorongan kekuatan yang luas terhadap
suatu arah yang umum.
·
Teori kebutuhan
Tindakan
yang dilakukan oleh manusia pada hakikatnya adalah untuk memenuhi kebutuhannya,
baik kebutuhan fisik maupun kebutuhan psikis.
·
Teori Abraham Maslow
Maslow
mengemukakan adanya lima tingkatan kebutuhan pokok manusia yaitu:
Kebutuhan
fisiologis, kebutuhan rasa aman dan perlindungan (safety and security),
kebutuhan sosial (social needs), kebutuhan akan akutualisasi diri (self
actualization).
Ingat, motivasi
adalah alat pendorong atau penggerak seseorang dalam melakukan segala sesuatu
maka dari itu jangan salah dalam memberikan motivasi kepada anak didik karena
itu akan berpengaruh terhadap tingkah laku mereka. Buatlah anak didik berminat
terhadap kita serta mata pelajaran yang diajarkan dan berikan motivasi yang
baik agar memberikan pengaruh yang baik pula terhadap tingkah laku mereka.
Sumber
: PSIKOLOGI PENDIDIKAN (Drs. Ngalim Purwanto, MP.)


0 komentar:
Posting Komentar