Hari ini aku tetap
menunggu pesan singkatmu dihandphoneku, walau huruf yang kamu ketik tak
sebanyak bayanganku namun aku terus menunggunya. Ntah mengapa sekarang rasanya
sangat sulit untuk melihatmu hadir di kotak masuk handphoneku. Padahal sewaktu
dulu bila aku membalas pesan singkatmu telat sedikit saja pasti kamu telah
mengomel. Tapi sekarang aku tak membalasnya pun tak akan menjadi hal penting
bagimu. Aku sadar kamu telah berubah, sudah tak seperti dulu. Dan isi pesan
singkatmu pun telah berubah menjadi sesingkat julukannya.
Meski kamu telah
berubah namun aku tak berani menanyakan apapun kepadamu walau perubahan itu sangat membuat hatiku
sakit. Setiap hari aku selalu bersikap seperti dulu; ya seperti kita yang dulu,
seolah-seolah semuanya baik-baik saja. Aku berusaha mengembalikkan kamu yang
dulu secara diam-diam. Mengingatkanmu tentang cita-cita kita, mengenang seperti
apa awal kita dulu bertemu; saling menyayangi, membuatmu mengerti bahwa ada
seseorang yang mengetahui segala tentang perubahanmu.
Sudah aku tinggalkan
pria-pria lain yang mencoba merebutku darimu. Sudah tak ku hiraukan keberadaan
mereka disisiku. Sudah aku lepaskan mereka yang selalu mengganggu kita berdua
sesuai dengan perintahmu. Aku sudah meninggalkan semua dan datang kepelukanmu.
Aku sudah menjauhi semua yang berusaha membuat ku percaya dan aku menaruh
kepercayaan itu untukmu. Berharap kita dapat bersama selamanya. Tapi yang
kudapatkan adalah keterbalikannya.
Tanpa kamu tahu aku
selalu memantaumu lewat media sosial. Melihat jentakan jemari mu dengan wanita
lain yang mungkin sudah merubahmu menjadi tak seperti dulu, wanita yang tak
kukenal. Wanita yang tampaknya menyukaimu dan kamu menyukainya, ntah itu hanya
sebatas huruf atau memang itu kenyataan yang ada. Aku seperti memasang puzzle
rasa sakit untuk diriku sendiri. Bodoh. Memang tak seharusnya aku melakukan ini
menuruti rasa kekepoanku terhadapmu. Tak usah lagi mencari tahu hal semua
tentang kamu.
Begitu mudah untukmu
dekat dengan yang lain. Seperti tak pernah ada luka, ya mungkin memang tak ada
luka karena kamu memang tak pernah jatuh seperti aku yang terjatuh. Kamu masih
bisa tersenyum. Aku tak pernah mengerti mengapa aku dulu bisa mencintaimu
dengan hati-hati sedangkan kamu meninggalkanku tanpa hati-hati sedikitpun. Dan
begitu mudah mendekati banyak wanita lain? Mungkin karena kamu yang
meninggalkaku terlebih dahulu, bukan aku yang meninggalkanmu terlebih dahulu.
Menuduhku mempunyai banyak cadangan untuk dijadikan pelarian semata. Tapi
sekarang kita lihat kenyataannya siapa yang terlebih dahulu berpindah hati?
Mungkin matamu buta sehingga dulu tak bisa melihat bahwa hanya kamu satu-satunya
yang kuperjuangkan dan kupercaya. Mungkin telingmu tuli sehingga dulu tak
pernah bisa mendengar tangisanku karenamu. Mungkin perasaanmu sudah
mati sehingga dulu tak bisa merasakan apa yang kurasakan. Jujur, mungkin saat
ini aku memang sudah tak mencintaimu, namun sisa-sisa rasa sakit itu masih belum
juga menghilang.
“Cinta
yang sejati tak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun
pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui”


0 komentar:
Posting Komentar