Welcome

Tulisan ini ada bukan karena aku tapi karena kalian. Ini bukan kisah tentang aku tapi kisah tentang kalian. Aku menulis ini bukan untuk aku tapi untuk kalian. Ini bukan hanya tentang perasaan aku tapi tentang perasaan kalian....


Sabtu, 17 Mei 2014

Hai sang moster bertopeng malaikat...

Diposting oleh Unknown di 21.47

 Hari ini aku tetap menunggu pesan singkatmu dihandphoneku, walau huruf yang kamu ketik tak sebanyak bayanganku namun aku terus menunggunya. Ntah mengapa sekarang rasanya sangat sulit untuk melihatmu hadir di kotak masuk handphoneku. Padahal sewaktu dulu bila aku membalas pesan singkatmu telat sedikit saja pasti kamu telah mengomel. Tapi sekarang aku tak membalasnya pun tak akan menjadi hal penting bagimu. Aku sadar kamu telah berubah, sudah tak seperti dulu. Dan isi pesan singkatmu pun telah berubah menjadi sesingkat julukannya.

Meski kamu telah berubah namun aku tak berani menanyakan apapun kepadamu  walau perubahan itu sangat membuat hatiku sakit. Setiap hari aku selalu bersikap seperti dulu; ya seperti kita yang dulu, seolah-seolah semuanya baik-baik saja. Aku berusaha mengembalikkan kamu yang dulu secara diam-diam. Mengingatkanmu tentang cita-cita kita, mengenang seperti apa awal kita dulu bertemu; saling menyayangi, membuatmu mengerti bahwa ada seseorang yang mengetahui segala tentang perubahanmu.

Sudah aku tinggalkan pria-pria lain yang mencoba merebutku darimu. Sudah tak ku hiraukan keberadaan mereka disisiku. Sudah aku lepaskan mereka yang selalu mengganggu kita berdua sesuai dengan perintahmu. Aku sudah meninggalkan semua dan datang kepelukanmu. Aku sudah menjauhi semua yang berusaha membuat ku percaya dan aku menaruh kepercayaan itu untukmu. Berharap kita dapat bersama selamanya. Tapi yang kudapatkan adalah keterbalikannya.

Tanpa kamu tahu aku selalu memantaumu lewat media sosial. Melihat jentakan jemari mu dengan wanita lain yang mungkin sudah merubahmu menjadi tak seperti dulu, wanita yang tak kukenal. Wanita yang tampaknya menyukaimu dan kamu menyukainya, ntah itu hanya sebatas huruf atau memang itu kenyataan yang ada. Aku seperti memasang puzzle rasa sakit untuk diriku sendiri. Bodoh. Memang tak seharusnya aku melakukan ini menuruti rasa kekepoanku terhadapmu. Tak usah lagi mencari tahu hal semua tentang kamu.

Begitu mudah untukmu dekat dengan yang lain. Seperti tak pernah ada luka, ya mungkin memang tak ada luka karena kamu memang tak pernah jatuh seperti aku yang terjatuh. Kamu masih bisa tersenyum. Aku tak pernah mengerti mengapa aku dulu bisa mencintaimu dengan hati-hati sedangkan kamu meninggalkanku tanpa hati-hati sedikitpun. Dan begitu mudah mendekati banyak wanita lain? Mungkin karena kamu yang meninggalkaku terlebih dahulu, bukan aku yang meninggalkanmu terlebih dahulu. Menuduhku mempunyai banyak cadangan untuk dijadikan pelarian semata. Tapi sekarang kita lihat kenyataannya siapa yang terlebih dahulu berpindah hati? Mungkin matamu buta sehingga dulu tak bisa melihat bahwa hanya kamu satu-satunya yang kuperjuangkan dan kupercaya. Mungkin telingmu tuli sehingga dulu tak pernah bisa mendengar tangisanku karenamu. Mungkin perasaanmu sudah mati sehingga dulu tak bisa merasakan apa yang kurasakan. Jujur, mungkin saat ini aku memang sudah tak mencintaimu, namun sisa-sisa rasa sakit itu masih belum juga menghilang.


“Cinta yang sejati tak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui”

0 komentar:

Posting Komentar

Sabtu, 17 Mei 2014

Hai sang moster bertopeng malaikat...

Diposting oleh Unknown di 21.47

 Hari ini aku tetap menunggu pesan singkatmu dihandphoneku, walau huruf yang kamu ketik tak sebanyak bayanganku namun aku terus menunggunya. Ntah mengapa sekarang rasanya sangat sulit untuk melihatmu hadir di kotak masuk handphoneku. Padahal sewaktu dulu bila aku membalas pesan singkatmu telat sedikit saja pasti kamu telah mengomel. Tapi sekarang aku tak membalasnya pun tak akan menjadi hal penting bagimu. Aku sadar kamu telah berubah, sudah tak seperti dulu. Dan isi pesan singkatmu pun telah berubah menjadi sesingkat julukannya.

Meski kamu telah berubah namun aku tak berani menanyakan apapun kepadamu  walau perubahan itu sangat membuat hatiku sakit. Setiap hari aku selalu bersikap seperti dulu; ya seperti kita yang dulu, seolah-seolah semuanya baik-baik saja. Aku berusaha mengembalikkan kamu yang dulu secara diam-diam. Mengingatkanmu tentang cita-cita kita, mengenang seperti apa awal kita dulu bertemu; saling menyayangi, membuatmu mengerti bahwa ada seseorang yang mengetahui segala tentang perubahanmu.

Sudah aku tinggalkan pria-pria lain yang mencoba merebutku darimu. Sudah tak ku hiraukan keberadaan mereka disisiku. Sudah aku lepaskan mereka yang selalu mengganggu kita berdua sesuai dengan perintahmu. Aku sudah meninggalkan semua dan datang kepelukanmu. Aku sudah menjauhi semua yang berusaha membuat ku percaya dan aku menaruh kepercayaan itu untukmu. Berharap kita dapat bersama selamanya. Tapi yang kudapatkan adalah keterbalikannya.

Tanpa kamu tahu aku selalu memantaumu lewat media sosial. Melihat jentakan jemari mu dengan wanita lain yang mungkin sudah merubahmu menjadi tak seperti dulu, wanita yang tak kukenal. Wanita yang tampaknya menyukaimu dan kamu menyukainya, ntah itu hanya sebatas huruf atau memang itu kenyataan yang ada. Aku seperti memasang puzzle rasa sakit untuk diriku sendiri. Bodoh. Memang tak seharusnya aku melakukan ini menuruti rasa kekepoanku terhadapmu. Tak usah lagi mencari tahu hal semua tentang kamu.

Begitu mudah untukmu dekat dengan yang lain. Seperti tak pernah ada luka, ya mungkin memang tak ada luka karena kamu memang tak pernah jatuh seperti aku yang terjatuh. Kamu masih bisa tersenyum. Aku tak pernah mengerti mengapa aku dulu bisa mencintaimu dengan hati-hati sedangkan kamu meninggalkanku tanpa hati-hati sedikitpun. Dan begitu mudah mendekati banyak wanita lain? Mungkin karena kamu yang meninggalkaku terlebih dahulu, bukan aku yang meninggalkanmu terlebih dahulu. Menuduhku mempunyai banyak cadangan untuk dijadikan pelarian semata. Tapi sekarang kita lihat kenyataannya siapa yang terlebih dahulu berpindah hati? Mungkin matamu buta sehingga dulu tak bisa melihat bahwa hanya kamu satu-satunya yang kuperjuangkan dan kupercaya. Mungkin telingmu tuli sehingga dulu tak pernah bisa mendengar tangisanku karenamu. Mungkin perasaanmu sudah mati sehingga dulu tak bisa merasakan apa yang kurasakan. Jujur, mungkin saat ini aku memang sudah tak mencintaimu, namun sisa-sisa rasa sakit itu masih belum juga menghilang.


“Cinta yang sejati tak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui”

0 komentar on "Hai sang moster bertopeng malaikat..."

Posting Komentar

About

blogspot tutorial,blog,tips blogging

Blogroll

My Blog List

Blogger templates

Blogger news

 

My World Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review