Menulis adalah duniaku.
Aku lebih menyukai menulis daripada berbicara, karena tak selalu apa yang aku
bicarakan dapat dimengerti dengan mudah. Hanya secarik kertas dan sebuah pena
yang dapat mengerti segala perasaanku. Disaat orang lain menentang apa yang aku
bicarakan namun kertas dan pena hanya diam walau aku menuliskan kata-kata yang
tak baik sekalipun. Meski aku mengotori tubuh sang kertas namun kertas
menerimanya dengan ikhlas. Dan meski aku menghabisi tenaga sang pena namun pena
tetap berdiam tanpa mencoba berlari.
Menulis adalah luapan
emosiku yang tak dapat kuungkapkan dengan alat ucapku. Jemari ku seakan menari
indah mengikuti irama serta alunan suasana hati. Terkadang aku tak membutuhkan
telinga orang lain yang terkadang pura-pura tuli karena terlalu bosan mendengarkan
cerita hidupku. Aku hanya membutuhkan sesuatu yang dapat mengerti segala
perasaanku, memahami segala luapan emosiku.
Kertas dan pena seakan
menjadi kawan hidupku. Tanpa kertas dan pena aku tak harus berlaru kemana. Dunia
seakan memusuhiku namun kertas dan pena tetap setia berada disampingku. Selalu
siap untuk ku butuhkan kapan saja, dimana saja, dan menuliskan apa saja tanpa
komentar sedikitpun. Selalu memanggilku
ketika aku merasa sendiri, meski terkadang aku melupakan keberadaan kertas dan
pena ketika aku merasa senang . Aku beruntung menemukan kawan hidup seperti
kertas dan pena yang tidak memiliki telinga dan alat ucap. Yang tak pernah tuli
mendengarkanku. Yang tak pernah memaki-maki ku dengan cerita hidupku ini.
Dalam menulis aku
merasakan kepuasaan tersendiri. Padahal tulisan hanya diam dan tak menjawab. Namun
aku merasa tulisan mampu memperbaiki perasaanku. Ini bukan untuk kamu, dia atau
mereka, ini hanya untuk aku. Tak berharap orang lain mengerti. Tulisan adalah
saksi bisuku, tulisan adalah yang paling mengenal siapa aku.
“Aku
ada karena aku menulis, karena menulis aku akan selalu ada.”


0 komentar:
Posting Komentar