Welcome

Tulisan ini ada bukan karena aku tapi karena kalian. Ini bukan kisah tentang aku tapi kisah tentang kalian. Aku menulis ini bukan untuk aku tapi untuk kalian. Ini bukan hanya tentang perasaan aku tapi tentang perasaan kalian....


Minggu, 18 Mei 2014

Menunggu...

Diposting oleh Unknown di 00.52
Waktu menertawakanku. Hari mengasihaniku. Tak perduli seberapa sering waktu memaki-maki ku hanya karena kebodohan ku. Tak perduli seberapa banyak kata ‘kasihan’ yang hari ucapkan kepada ku. Aku hanya ingin satu hal....yaitu KAMU.

Menunggu. Ya hanya itu yang mampu aku lakukan sekarang. Ntah alasan apa yang begitu kuat sehingga aku mampu berdiri tegak menunggumu. Ntah hal apa yang telah kamu lakukan kepada hatiku sehingga aku yakin kamu akan datang kembali kepadaku.

Tujuh tahun aku mengenalmu, sayang. Seakan tak ada hal sekecil apapun yang tidak kuketahui tentang dirimu. Seakan aku sudah mengenal seluruh hal yang menyangkut pada dirimu. Aku mampu mengenalimu meski hanya mendengar suara mu, tanpa harus menatap matamu. Aku mampu mengenali sorot indah matamu meski aku tak melihat seluruh wajahmu. Bahkan mungkin, aku lebih mengenal dirimu dibandingkan kamu mengenal dirimu sendiri.

Tujuh tahun aku bersamamu, sayang. Bersama mu tanpa status yang jelas. Meski terkadang kamu menghilang, jauh dari indra penglihatanku namun kamu kembali lagi di depan indra penglihatanku tanpa ada jarak diantara kita. Terkadang aku merasa hanya teman bagimu, terkadang aku merasa yang spesial untukmu dan terkadang aku merasa aku bukan siapa-siapa dimatamu.

Tujuh tahun aku menyayangimu, sayang. Berawal dari rasa sayang sebagai teman berubah rasa sayang itu menjadi lebih dari seorang teman. Apa benar selama ini aku menyayangimu sayang? Apa benar ini rasa sayang yang sesungguhnya? Menyayangimu dalam diam seakan menjadi hobiku. Disaat kamu menjauh disaat itu juga aku menjadi penganggum rahasiamu. Disaat kamu mendekat disaat itu juga aku merasa menjadi kekasihmu.

Harus berapa lama kita untuk saling memahami, sayang? Tak cukupkah tujuh tahun untuk kita saling mengerti satu sama lain? Harus berapa tahun lagi aku menyakinkan hatimu, sayang? Tak cukupkah pengorbanan ku selama ini terlihat dan terasa dihatimu? Haruskah aku menunggu lebih lama lagi, sayang? Tak cukupkan airmata yang sudah kutukar demi melihat senyum indahmu? Harus berapa lama lagi aku terus memimpikanmu dalam tidurku?

Berulang kali ku coba menjalani hubungan dengan sosok pria yang lain. Namun tak ada yang mampu membuat ku benar-benar melupakanmu, sayang. Aku sudah terlalu jauh masuk ke dalam hatimu. Tersesat. Atau mungkin aku yang membiarkan hatiku tak keluar dari hatimu... Ntahlah tapi untuk saat ini aku masih menikmati segalanya, sayang. Meski terkadang disini gelap namun kamu kembali memberi ku sedikit penerangan. Ya sedikit. Aku tak mengharapkan terlalu banyak karena memang aku tak pantas mengharapkannya.

Beratus-ratus hari bahkan ribuan hari telah menjadi saksi cerita kita. Hari seakan saksi bisu atas segala perasaanku untukmu. Hari seakan teman sejati ku dikala aku merindukan, membenci bahkan menyayangimu. Hanya aku dan hari. Waktu seakan menertawakan ku hanya karena kebodohanku.

Tujuh tahun. Ya tujuh tahun aku menjadi penganggum rahasiamu. Aku bagaikan seorang ‘penggemar’ yang mengidolakan sang bintang. Tak perduli seberapa banyak hatersmu. Tak perduli seberapa banyak fansmu. Aku tetap bertahan diantara mereka semua, sayang. Hanya karena... AKU PENGANGGUM SETIAMU...

Maafkan aku yang terlalu lama memendam perasaan ini untukmu, sayang. Maafkan aku yang terlalu pengecut untuk mengakui bahwa hati ini telah memilihmu. Maafkan aku yang membiarkan rasa ini terus tumbuh semakin dalam kepadamu, sayang. Maafkan. Maafkan aku yang terlalu lancang ingin selalu memilikimu. Dan maafkan aku yan dengan tanpa izin selalu memimpikan kamu dalam waktu ku terlelap...













Waktu menertawakanku. Hari mengasihaniku. Tak perduli seberapa sering waktu memaki-maki ku hanya karena kebodohan ku. Tak perduli seberapa banyak kata ‘kasihan’ yang hari ucapkan kepada ku. Aku hanya ingin satu hal....yaitu KAMU.
Menunggu. Ya hanya itu yang mampu aku lakukan sekarang. Ntah alasan apa yang begitu kuat sehingga aku mampu berdiri tegak menunggumu. Ntah hal apa yang telah kamu lakukan kepada hatiku sehingga aku yakin kamu akan datang kembali kepadaku.
Tujuh tahun aku mengenalmu, sayang. Seakan tak ada hal sekecil apapun yang tidak kuketahui tentang dirimu. Seakan aku sudah mengenal seluruh hal yang menyangkut pada dirimu. Aku mampu mengenalimu meski hanya mendengar suara mu, tanpa harus menatap matamu. Aku mampu mengenali sorot indah matamu meski aku tak melihat seluruh wajahmu. Bahkan mungkin, aku lebih mengenal dirimu dibandingkan kamu mengenal dirimu sendiri.
Tujuh tahun aku bersamamu, sayang. Bersama mu tanpa status yang jelas. Meski terkadang kamu menghilang, jauh dari indra penglihatanku namun kamu kembali lagi di depan indra penglihatanku tanpa ada jarak diantara kita. Terkadang aku merasa hanya teman bagimu, terkadang aku merasa yang spesial untukmu dan terkadang aku merasa aku bukan siapa-siapa dimatamu.
Tujuh tahun aku menyayangimu, sayang. Berawal dari rasa sayang sebagai teman berubah rasa sayang itu menjadi lebih dari seorang teman. Apa benar selama ini aku menyayangimu sayang? Apa benar ini rasa sayang yang sesungguhnya? Menyayangimu dalam diam seakan menjadi hobiku. Disaat kamu menjauh disaat itu juga aku menjadi penganggum rahasiamu. Disaat kamu mendekat disaat itu juga aku merasa menjadi kekasihmu.
Harus berapa lama kita untuk saling memahami, sayang? Tak cukupkah tujuh tahun untuk kita saling mengerti satu sama lain? Harus berapa tahun lagi aku menyakinkan hatimu, sayang? Tak cukupkah pengorbanan ku selama ini terlihat dan terasa dihatimu? Haruskah aku menunggu lebih lama lagi, sayang? Tak cukupkan airmata yang sudah kutukar demi melihat senyum indahmu? Harus berapa lama lagi aku terus memimpikanmu dalam tidurku?
Berulang kali ku coba menjalani hubungan dengan sosok pria yang lain. Namun tak ada yang mampu membuat ku benar-benar melupakanmu, sayang. Aku sudah terlalu jauh masuk ke dalam hatimu. Tersesat. Atau mungkin aku yang membiarkan hatiku tak keluar dari hatimu... Ntahlah tapi untuk saat ini aku masih menikmati segalanya, sayang. Meski terkadang disini gelap namun kamu kembali memberi ku sedikit penerangan. Ya sedikit. Aku tak mengharapkan terlalu banyak karena memang aku tak pantas mengharapkannya.
Beratus-ratus hari bahkan ribuan hari telah menjadi saksi cerita kita. Hari seakan saksi bisu atas segala perasaanku untukmu. Hari seakan teman sejati ku dikala aku merindukan, membenci bahkan menyayangimu. Hanya aku dan hari. Waktu seakan menertawakan ku hanya karena kebodohanku.
Tujuh tahun. Ya tujuh tahun aku menjadi penganggum rahasiamu. Aku bagaikan seorang ‘penggemar’ yang mengidolakan sang bintang. Tak perduli seberapa banyak hatersmu. Tak perduli seberapa banyak fansmu. Aku tetap bertahan diantara mereka semua, sayang. Hanya karena... AKU PENGANGGUM SETIAMU...


Maafkan aku yang terlalu lama memendam perasaan ini untukmu, sayang. Maafkan aku yang terlalu pengecut untuk mengakui bahwa hati ini telah memilihmu. Maafkan aku yang membiarkan rasa ini terus tumbuh semakin dalam kepadamu, sayang. Maafkan. Maafkan aku yang terlalu lancang ingin selalu memilikimu. Dan maafkan aku yan dengan tanpa izin selalu memimpikan kamu dalam waktu ku terlelap...


























  














0 komentar:

Posting Komentar

Minggu, 18 Mei 2014

Menunggu...

Diposting oleh Unknown di 00.52
Waktu menertawakanku. Hari mengasihaniku. Tak perduli seberapa sering waktu memaki-maki ku hanya karena kebodohan ku. Tak perduli seberapa banyak kata ‘kasihan’ yang hari ucapkan kepada ku. Aku hanya ingin satu hal....yaitu KAMU.

Menunggu. Ya hanya itu yang mampu aku lakukan sekarang. Ntah alasan apa yang begitu kuat sehingga aku mampu berdiri tegak menunggumu. Ntah hal apa yang telah kamu lakukan kepada hatiku sehingga aku yakin kamu akan datang kembali kepadaku.

Tujuh tahun aku mengenalmu, sayang. Seakan tak ada hal sekecil apapun yang tidak kuketahui tentang dirimu. Seakan aku sudah mengenal seluruh hal yang menyangkut pada dirimu. Aku mampu mengenalimu meski hanya mendengar suara mu, tanpa harus menatap matamu. Aku mampu mengenali sorot indah matamu meski aku tak melihat seluruh wajahmu. Bahkan mungkin, aku lebih mengenal dirimu dibandingkan kamu mengenal dirimu sendiri.

Tujuh tahun aku bersamamu, sayang. Bersama mu tanpa status yang jelas. Meski terkadang kamu menghilang, jauh dari indra penglihatanku namun kamu kembali lagi di depan indra penglihatanku tanpa ada jarak diantara kita. Terkadang aku merasa hanya teman bagimu, terkadang aku merasa yang spesial untukmu dan terkadang aku merasa aku bukan siapa-siapa dimatamu.

Tujuh tahun aku menyayangimu, sayang. Berawal dari rasa sayang sebagai teman berubah rasa sayang itu menjadi lebih dari seorang teman. Apa benar selama ini aku menyayangimu sayang? Apa benar ini rasa sayang yang sesungguhnya? Menyayangimu dalam diam seakan menjadi hobiku. Disaat kamu menjauh disaat itu juga aku menjadi penganggum rahasiamu. Disaat kamu mendekat disaat itu juga aku merasa menjadi kekasihmu.

Harus berapa lama kita untuk saling memahami, sayang? Tak cukupkah tujuh tahun untuk kita saling mengerti satu sama lain? Harus berapa tahun lagi aku menyakinkan hatimu, sayang? Tak cukupkah pengorbanan ku selama ini terlihat dan terasa dihatimu? Haruskah aku menunggu lebih lama lagi, sayang? Tak cukupkan airmata yang sudah kutukar demi melihat senyum indahmu? Harus berapa lama lagi aku terus memimpikanmu dalam tidurku?

Berulang kali ku coba menjalani hubungan dengan sosok pria yang lain. Namun tak ada yang mampu membuat ku benar-benar melupakanmu, sayang. Aku sudah terlalu jauh masuk ke dalam hatimu. Tersesat. Atau mungkin aku yang membiarkan hatiku tak keluar dari hatimu... Ntahlah tapi untuk saat ini aku masih menikmati segalanya, sayang. Meski terkadang disini gelap namun kamu kembali memberi ku sedikit penerangan. Ya sedikit. Aku tak mengharapkan terlalu banyak karena memang aku tak pantas mengharapkannya.

Beratus-ratus hari bahkan ribuan hari telah menjadi saksi cerita kita. Hari seakan saksi bisu atas segala perasaanku untukmu. Hari seakan teman sejati ku dikala aku merindukan, membenci bahkan menyayangimu. Hanya aku dan hari. Waktu seakan menertawakan ku hanya karena kebodohanku.

Tujuh tahun. Ya tujuh tahun aku menjadi penganggum rahasiamu. Aku bagaikan seorang ‘penggemar’ yang mengidolakan sang bintang. Tak perduli seberapa banyak hatersmu. Tak perduli seberapa banyak fansmu. Aku tetap bertahan diantara mereka semua, sayang. Hanya karena... AKU PENGANGGUM SETIAMU...

Maafkan aku yang terlalu lama memendam perasaan ini untukmu, sayang. Maafkan aku yang terlalu pengecut untuk mengakui bahwa hati ini telah memilihmu. Maafkan aku yang membiarkan rasa ini terus tumbuh semakin dalam kepadamu, sayang. Maafkan. Maafkan aku yang terlalu lancang ingin selalu memilikimu. Dan maafkan aku yan dengan tanpa izin selalu memimpikan kamu dalam waktu ku terlelap...













Waktu menertawakanku. Hari mengasihaniku. Tak perduli seberapa sering waktu memaki-maki ku hanya karena kebodohan ku. Tak perduli seberapa banyak kata ‘kasihan’ yang hari ucapkan kepada ku. Aku hanya ingin satu hal....yaitu KAMU.
Menunggu. Ya hanya itu yang mampu aku lakukan sekarang. Ntah alasan apa yang begitu kuat sehingga aku mampu berdiri tegak menunggumu. Ntah hal apa yang telah kamu lakukan kepada hatiku sehingga aku yakin kamu akan datang kembali kepadaku.
Tujuh tahun aku mengenalmu, sayang. Seakan tak ada hal sekecil apapun yang tidak kuketahui tentang dirimu. Seakan aku sudah mengenal seluruh hal yang menyangkut pada dirimu. Aku mampu mengenalimu meski hanya mendengar suara mu, tanpa harus menatap matamu. Aku mampu mengenali sorot indah matamu meski aku tak melihat seluruh wajahmu. Bahkan mungkin, aku lebih mengenal dirimu dibandingkan kamu mengenal dirimu sendiri.
Tujuh tahun aku bersamamu, sayang. Bersama mu tanpa status yang jelas. Meski terkadang kamu menghilang, jauh dari indra penglihatanku namun kamu kembali lagi di depan indra penglihatanku tanpa ada jarak diantara kita. Terkadang aku merasa hanya teman bagimu, terkadang aku merasa yang spesial untukmu dan terkadang aku merasa aku bukan siapa-siapa dimatamu.
Tujuh tahun aku menyayangimu, sayang. Berawal dari rasa sayang sebagai teman berubah rasa sayang itu menjadi lebih dari seorang teman. Apa benar selama ini aku menyayangimu sayang? Apa benar ini rasa sayang yang sesungguhnya? Menyayangimu dalam diam seakan menjadi hobiku. Disaat kamu menjauh disaat itu juga aku menjadi penganggum rahasiamu. Disaat kamu mendekat disaat itu juga aku merasa menjadi kekasihmu.
Harus berapa lama kita untuk saling memahami, sayang? Tak cukupkah tujuh tahun untuk kita saling mengerti satu sama lain? Harus berapa tahun lagi aku menyakinkan hatimu, sayang? Tak cukupkah pengorbanan ku selama ini terlihat dan terasa dihatimu? Haruskah aku menunggu lebih lama lagi, sayang? Tak cukupkan airmata yang sudah kutukar demi melihat senyum indahmu? Harus berapa lama lagi aku terus memimpikanmu dalam tidurku?
Berulang kali ku coba menjalani hubungan dengan sosok pria yang lain. Namun tak ada yang mampu membuat ku benar-benar melupakanmu, sayang. Aku sudah terlalu jauh masuk ke dalam hatimu. Tersesat. Atau mungkin aku yang membiarkan hatiku tak keluar dari hatimu... Ntahlah tapi untuk saat ini aku masih menikmati segalanya, sayang. Meski terkadang disini gelap namun kamu kembali memberi ku sedikit penerangan. Ya sedikit. Aku tak mengharapkan terlalu banyak karena memang aku tak pantas mengharapkannya.
Beratus-ratus hari bahkan ribuan hari telah menjadi saksi cerita kita. Hari seakan saksi bisu atas segala perasaanku untukmu. Hari seakan teman sejati ku dikala aku merindukan, membenci bahkan menyayangimu. Hanya aku dan hari. Waktu seakan menertawakan ku hanya karena kebodohanku.
Tujuh tahun. Ya tujuh tahun aku menjadi penganggum rahasiamu. Aku bagaikan seorang ‘penggemar’ yang mengidolakan sang bintang. Tak perduli seberapa banyak hatersmu. Tak perduli seberapa banyak fansmu. Aku tetap bertahan diantara mereka semua, sayang. Hanya karena... AKU PENGANGGUM SETIAMU...


Maafkan aku yang terlalu lama memendam perasaan ini untukmu, sayang. Maafkan aku yang terlalu pengecut untuk mengakui bahwa hati ini telah memilihmu. Maafkan aku yang membiarkan rasa ini terus tumbuh semakin dalam kepadamu, sayang. Maafkan. Maafkan aku yang terlalu lancang ingin selalu memilikimu. Dan maafkan aku yan dengan tanpa izin selalu memimpikan kamu dalam waktu ku terlelap...


























  














0 komentar on "Menunggu..."

Posting Komentar

About

blogspot tutorial,blog,tips blogging

Blogroll

My Blog List

Blogger templates

Blogger news

 

My World Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review