Waktu
menertawakanku. Hari mengasihaniku. Tak perduli seberapa sering waktu
memaki-maki ku hanya karena kebodohan ku. Tak perduli seberapa banyak kata
‘kasihan’ yang hari ucapkan kepada ku. Aku hanya ingin satu hal....yaitu KAMU.
Menunggu. Ya hanya itu yang mampu
aku lakukan sekarang. Ntah alasan apa yang begitu kuat sehingga aku mampu
berdiri tegak menunggumu. Ntah hal apa yang telah kamu lakukan kepada hatiku sehingga
aku yakin kamu akan datang kembali kepadaku.
Tujuh tahun aku mengenalmu,
sayang. Seakan tak ada hal sekecil apapun yang tidak kuketahui tentang dirimu.
Seakan aku sudah mengenal seluruh hal yang menyangkut pada dirimu. Aku mampu
mengenalimu meski hanya mendengar suara mu, tanpa harus menatap matamu. Aku
mampu mengenali sorot indah matamu meski aku tak melihat seluruh wajahmu.
Bahkan mungkin, aku lebih mengenal dirimu dibandingkan kamu mengenal dirimu
sendiri.
Tujuh tahun aku bersamamu,
sayang. Bersama mu tanpa status yang jelas. Meski terkadang kamu menghilang,
jauh dari indra penglihatanku namun kamu kembali lagi di depan indra
penglihatanku tanpa ada jarak diantara kita. Terkadang aku merasa hanya teman
bagimu, terkadang aku merasa yang spesial untukmu dan terkadang aku merasa aku
bukan siapa-siapa dimatamu.
Tujuh tahun aku menyayangimu,
sayang. Berawal dari rasa sayang sebagai teman berubah rasa sayang itu menjadi
lebih dari seorang teman. Apa benar selama ini aku menyayangimu sayang? Apa
benar ini rasa sayang yang sesungguhnya? Menyayangimu dalam diam seakan menjadi
hobiku. Disaat kamu menjauh disaat itu juga aku menjadi penganggum rahasiamu.
Disaat kamu mendekat disaat itu juga aku merasa menjadi kekasihmu.
Harus berapa lama kita untuk
saling memahami, sayang? Tak cukupkah tujuh tahun untuk kita saling mengerti
satu sama lain? Harus berapa tahun lagi aku menyakinkan hatimu, sayang? Tak
cukupkah pengorbanan ku selama ini terlihat dan terasa dihatimu? Haruskah aku menunggu
lebih lama lagi, sayang? Tak cukupkan airmata yang sudah kutukar demi melihat
senyum indahmu? Harus berapa lama lagi aku terus memimpikanmu dalam tidurku?
Berulang kali ku coba menjalani
hubungan dengan sosok pria yang lain. Namun tak ada yang mampu membuat ku
benar-benar melupakanmu, sayang. Aku sudah terlalu jauh masuk ke dalam hatimu.
Tersesat. Atau mungkin aku yang membiarkan hatiku tak keluar dari hatimu...
Ntahlah tapi untuk saat ini aku masih menikmati segalanya, sayang. Meski
terkadang disini gelap namun kamu kembali memberi ku sedikit penerangan. Ya
sedikit. Aku tak mengharapkan terlalu banyak karena memang aku tak pantas
mengharapkannya.
Beratus-ratus hari bahkan ribuan
hari telah menjadi saksi cerita kita. Hari seakan saksi bisu atas segala perasaanku
untukmu. Hari seakan teman sejati ku dikala aku merindukan, membenci bahkan
menyayangimu. Hanya aku dan hari. Waktu seakan menertawakan ku hanya karena
kebodohanku.
Tujuh tahun. Ya tujuh tahun aku
menjadi penganggum rahasiamu. Aku bagaikan seorang ‘penggemar’ yang
mengidolakan sang bintang. Tak perduli seberapa banyak hatersmu. Tak perduli seberapa
banyak fansmu. Aku tetap bertahan diantara mereka semua, sayang. Hanya
karena... AKU PENGANGGUM SETIAMU...
Maafkan aku yang terlalu lama memendam
perasaan ini untukmu, sayang. Maafkan aku yang terlalu pengecut untuk mengakui
bahwa hati ini telah memilihmu. Maafkan aku yang membiarkan rasa ini terus
tumbuh semakin dalam kepadamu, sayang. Maafkan. Maafkan aku yang terlalu
lancang ingin selalu memilikimu. Dan maafkan aku yan dengan tanpa izin selalu
memimpikan kamu dalam waktu ku terlelap...
Waktu
menertawakanku. Hari mengasihaniku. Tak perduli seberapa sering waktu
memaki-maki ku hanya karena kebodohan ku. Tak perduli seberapa banyak kata
‘kasihan’ yang hari ucapkan kepada ku. Aku hanya ingin satu hal....yaitu KAMU.
Menunggu. Ya hanya itu yang mampu
aku lakukan sekarang. Ntah alasan apa yang begitu kuat sehingga aku mampu
berdiri tegak menunggumu. Ntah hal apa yang telah kamu lakukan kepada hatiku sehingga
aku yakin kamu akan datang kembali kepadaku.
Tujuh tahun aku mengenalmu,
sayang. Seakan tak ada hal sekecil apapun yang tidak kuketahui tentang dirimu.
Seakan aku sudah mengenal seluruh hal yang menyangkut pada dirimu. Aku mampu
mengenalimu meski hanya mendengar suara mu, tanpa harus menatap matamu. Aku
mampu mengenali sorot indah matamu meski aku tak melihat seluruh wajahmu.
Bahkan mungkin, aku lebih mengenal dirimu dibandingkan kamu mengenal dirimu
sendiri.
Tujuh tahun aku bersamamu,
sayang. Bersama mu tanpa status yang jelas. Meski terkadang kamu menghilang,
jauh dari indra penglihatanku namun kamu kembali lagi di depan indra
penglihatanku tanpa ada jarak diantara kita. Terkadang aku merasa hanya teman
bagimu, terkadang aku merasa yang spesial untukmu dan terkadang aku merasa aku
bukan siapa-siapa dimatamu.
Tujuh tahun aku menyayangimu,
sayang. Berawal dari rasa sayang sebagai teman berubah rasa sayang itu menjadi
lebih dari seorang teman. Apa benar selama ini aku menyayangimu sayang? Apa
benar ini rasa sayang yang sesungguhnya? Menyayangimu dalam diam seakan menjadi
hobiku. Disaat kamu menjauh disaat itu juga aku menjadi penganggum rahasiamu.
Disaat kamu mendekat disaat itu juga aku merasa menjadi kekasihmu.
Harus berapa lama kita untuk
saling memahami, sayang? Tak cukupkah tujuh tahun untuk kita saling mengerti
satu sama lain? Harus berapa tahun lagi aku menyakinkan hatimu, sayang? Tak
cukupkah pengorbanan ku selama ini terlihat dan terasa dihatimu? Haruskah aku menunggu
lebih lama lagi, sayang? Tak cukupkan airmata yang sudah kutukar demi melihat
senyum indahmu? Harus berapa lama lagi aku terus memimpikanmu dalam tidurku?
Berulang kali ku coba menjalani
hubungan dengan sosok pria yang lain. Namun tak ada yang mampu membuat ku
benar-benar melupakanmu, sayang. Aku sudah terlalu jauh masuk ke dalam hatimu.
Tersesat. Atau mungkin aku yang membiarkan hatiku tak keluar dari hatimu...
Ntahlah tapi untuk saat ini aku masih menikmati segalanya, sayang. Meski
terkadang disini gelap namun kamu kembali memberi ku sedikit penerangan. Ya
sedikit. Aku tak mengharapkan terlalu banyak karena memang aku tak pantas
mengharapkannya.
Beratus-ratus hari bahkan ribuan
hari telah menjadi saksi cerita kita. Hari seakan saksi bisu atas segala perasaanku
untukmu. Hari seakan teman sejati ku dikala aku merindukan, membenci bahkan
menyayangimu. Hanya aku dan hari. Waktu seakan menertawakan ku hanya karena
kebodohanku.
Tujuh tahun. Ya tujuh tahun aku
menjadi penganggum rahasiamu. Aku bagaikan seorang ‘penggemar’ yang
mengidolakan sang bintang. Tak perduli seberapa banyak hatersmu. Tak perduli seberapa
banyak fansmu. Aku tetap bertahan diantara mereka semua, sayang. Hanya
karena... AKU PENGANGGUM SETIAMU...
Maafkan aku yang terlalu lama memendam
perasaan ini untukmu, sayang. Maafkan aku yang terlalu pengecut untuk mengakui
bahwa hati ini telah memilihmu. Maafkan aku yang membiarkan rasa ini terus
tumbuh semakin dalam kepadamu, sayang. Maafkan. Maafkan aku yang terlalu
lancang ingin selalu memilikimu. Dan maafkan aku yan dengan tanpa izin selalu
memimpikan kamu dalam waktu ku terlelap...


0 komentar:
Posting Komentar