Aku tak mengerti apa
yang terjadi diantara kita. Semua berubah begitu saja. Apa yang membuat
segalanya terasa asing? Apa semua karena salahku? Ntahlah... yang jelas semua
memang telah berubah semenjak kejadian itu... Apa memang ini hukuman yang
pantas untukku meski aku sudah berusaha memperbaikinya? Tak cukupkah kesempatan
yang selalu kuberi untukmu untuk menjadikan kita seperti dulu lagi?
Aku seperti tak
mengenalmu, wahai lelakiku. Aku tak mampu memahami mengapa aku bisa jatuh
bahkan terlalu jatuh didalam hati seorang pria sepertimu. Pria yang selalu tak
bisa menjaga janjinya, pria yang selalu mensia-sia kan kesempatan yang
diberikan, pria yang sekarang mulai menjauh dari diriku, pria yang sekarang
mulai malas berhubungan denganku. Tapi aku lebih tak mampu memahami diriku
sendiri, mengapa aku bisa bertahan dengan mu hingga sekarang, wahai lelakiku?
Meski kamu telah
berubah menjadi sesosok moster yang amat menakutkan dimataku namun kamu tetap
sang bintang di hatiku. Mata dan hatiku seakan menjadi musuh. Tak pernah
sejalan seperti dulu. Tak pernah bersahabat seperti awal kita bersama. Api yang
dulu kamu nyalakan terasa hangat dipelukkan ku tapi sekarang api itu seakan mampu
membakar tubuhku. Kesejukkan yang selalu di ucapakan dari bibir indahmu namun sekarang
seperti es dingin yang mampu membekukan ku. Ntah sihir apa yang telah kamu
tiupkan dikeduanya sehingga semuanya berubah begitu saja.
Wahai lelaki ku,
bisakah kamu mengukur seberapa besar kesabaran ku dalam menghadapimu selama
ini. Aku tak pernah memintamu untuk menjadi seperti dulu, meski aku sangat
merindukan kamu yang dulu. Aku tak ingin banyak menuntut darimu. Maafkan aku
menulis ini untukmu, wahai lelakiku. Mungkin sekarang aku hanya belum bisa
menerima sosokmu yang ‘baru’.
Aku tetap setia disini,
disampingmu, dengan dirimu yang ‘baru’. Ntah apa orang itu masih kamu atau dia
orang lain yang hanya menyerupaimu. Aku akan tetap setia menjadi kawan ceritamu
dalam suka maupun duka, tempat kamu mencurahkan segala emosi jiwa, tempat kamu
membenci waktu yang menyebalkan. Aku berusaha membuat telingaku tuli, membuat hati
ku menjadi batu, hanya untuk mendengar segala amarah, bentakkan, bahkan
cacianmu.
Andai kamu aku, bisa
kah kamu melakukan apa yang telah aku lakukan kepadamu? Saat kamu mengeluarkan
amarah, aku tak membalasnya. Saat kamu mengeluarkan curahan hatimu, aku tak
menutup telingaku sedikitpun. Saat kamu membentakku, aku tetap tersenyum
kepadamu. Saat kamu mengumpatku dengan kata-kata kotor, aku tetap berkata halus
kepadamu. Bahkan saat kamu membuat ku menangis, aku selalu tetap melukiskan
senyum di bibirmu. Aku selalu menyediakan pundakku meski saat itu aku berada
diposisi paling lemah untukku sendiri. Karena bagiku, membuatmu menjadi kuat
kembali adalah tugasku.
Apakah wanita lain yang
membuatmu berubah saat ini bisa melakukan apa yang kulakukan padamu? Apakah wanita
itu siap menerima segala curhan hatimu dan tidak menutup telinganya? Apakah
wanita itu mampu menerima segala amarahmu tanpa membalasnya sedikitpun? Apakah wanita
itu tetap tersenyum meski kamu membentaknya? Apakah wanita itu masih bisa
berkata halus saat kamu mengumpatnya dengan kata-kata kotor? Dan apakah wanita
itu akan selalu melukiskan senyum dibibirmu ketika kamu membuat airmatanya
terjatuh? Apakah dia ada disaat kamu membutuhkan pundaknya?
Sadarlah, wahai
lelakiku. Wanita yang saat ini mampu merubahmu akan pergi meninggalkanmu, mengisap
semua kasih sayang yang pernah kamu berikan kepadaku. Dan ketika dia
meninggalkanmu, kamu akan memohon dihadapanku untuk kembali kepadamu. Tapi sekarang
kamu masih jadi pemenang, wahai lelakiku. Belum saatnya kamu merasakan itu.
Untuk sekarang kamu
masih memandangku sebagai wanita murahan, bodoh, tolol, dan tak punya harga
diri karena masih terus berdiri disampingmu. Kamu hanya memandangku dari sisi
yang kamu benci. Kamu belum merasakan takut kehilangan wanita yang kamu anggap
tak berguna ini. Rasa itu akan datang, wahai lelakiku, saat aku tak lagi
memperdulikkanmu dan membuangmu sebagai seonggok sampah yang tak berguna dan
kamu akan memohon untuk aku memungutmu kembali. Aku ini memang wanita bodoh
yang bisa kamu jadikan boneka. Tapi aku tak sebodoh dirimu, yang mampu dirayu
hanya lewat perhatiaan sesaat.
Lakukan lah hingga kamu
puas. Dustai dan khianati lukai hatiku. Sampai lautan airmataku akan mengering
karna terkuras olehmu. Namun hari esok, airmata ku akan menjadi airmatamu. Aku sebenarnya
mampu untuk meninggalkan, melupakan bahkan membencimu kapanpun aku mau. Tapi sekarang,
aku masih ingin bermain dengan permainanmu, wahai lelakiku. Aku ingin tau
seberapa hebat kamu menyelesaikan permainan ini.
Permaianan mu terlalu
asyik untuk ditinggalkan begitu saja meski ini saat menyiksaku. Dan ketika
permainan ini berakhir aku akan pergi meninggalkanmu, karena memang aku tak
ingin bermain dari awal lagi. Rasanya tak akan seseru dan seasyik ketika awal
kamu mengajakku bermain. Karena aku telah tau, apa yang akan kamu lakukan
kepadaku. Dan aku tau semua perlakuan kasarmu yang akan kamu berikan kepadaku. Kamu
bukan lagi sesosok penyelamat dalam hidupku tapi kamu adalah ular berbisa.
Ya aku ini bagai seekor
tikus kecil yang menjadi sajian lezat untuk ular sepertimu. Namun aku ingin
melihat bila tak ada lagi tikus kecil ini masih mampukah kamu merasakan sajian
lezat? Sama seperti kenyataan yang ada pada kita, aku ingin melihat apakan kamu
mampu bila tak ada aku? Apa matamu masih tertutup rapat sehingga tak bisa
melihat sosokku yang sebenarnya?
Biar waktu yang membuatmu
sadar akan semuanya, wahai lelakiku. Biarkan aku pergi dan mengakhiri permainan
ini dan perlahan-lahan pergi dari hidupmu. Izinkan aku menikmati keindahan alam
setelah sekian lama terkurung dalam sangkar emasmu yang palsu. Dan kamu harus
ingat ketika aku pergi aku tak akan ingin kembali kedalam sangkar emasmu lagi.
Terimakasih untukmu,
wahai lelakiku, yang telah menjadikan aku sekuat baja, menjadikan aku sekokoh
karang yang terus dihantam oleh ombak besar, menjadikan aku tembok yang hanya
bisa diam disaat orang lain hendak menghancurkannya. Terimakasih atas segala
kebahagian serta kesedihan yang kamu berikan. Aku anggap kamu salah satu warna
dalam hidupku, wahai lelakiku. Tanpamu aku takkan mampu menjadi sesosok wanita
yang tegar.


0 komentar:
Posting Komentar