Welcome

Tulisan ini ada bukan karena aku tapi karena kalian. Ini bukan kisah tentang aku tapi kisah tentang kalian. Aku menulis ini bukan untuk aku tapi untuk kalian. Ini bukan hanya tentang perasaan aku tapi tentang perasaan kalian....


Kamis, 08 Mei 2014

Hai Power Ranger

Diposting oleh Unknown di 08.10
Aku tak mengerti apa yang terjadi diantara kita. Semua berubah begitu saja. Apa yang membuat segalanya terasa asing? Apa semua karena salahku? Ntahlah... yang jelas semua memang telah berubah semenjak kejadian itu... Apa memang ini hukuman yang pantas untukku meski aku sudah berusaha memperbaikinya? Tak cukupkah kesempatan yang selalu kuberi untukmu untuk menjadikan kita seperti dulu lagi?

Aku seperti tak mengenalmu, wahai lelakiku. Aku tak mampu memahami mengapa aku bisa jatuh bahkan terlalu jatuh didalam hati seorang pria sepertimu. Pria yang selalu tak bisa menjaga janjinya, pria yang selalu mensia-sia kan kesempatan yang diberikan, pria yang sekarang mulai menjauh dari diriku, pria yang sekarang mulai malas berhubungan denganku. Tapi aku lebih tak mampu memahami diriku sendiri, mengapa aku bisa bertahan dengan mu hingga sekarang, wahai lelakiku?

Meski kamu telah berubah menjadi sesosok moster yang amat menakutkan dimataku namun kamu tetap sang bintang di hatiku. Mata dan hatiku seakan menjadi musuh. Tak pernah sejalan seperti dulu. Tak pernah bersahabat seperti awal kita bersama. Api yang dulu kamu nyalakan terasa hangat dipelukkan ku tapi sekarang api itu seakan mampu membakar tubuhku. Kesejukkan yang selalu di ucapakan dari bibir indahmu namun sekarang seperti es dingin yang mampu membekukan ku. Ntah sihir apa yang telah kamu tiupkan dikeduanya sehingga semuanya berubah begitu saja.

Wahai lelaki ku, bisakah kamu mengukur seberapa besar kesabaran ku dalam menghadapimu selama ini. Aku tak pernah memintamu untuk menjadi seperti dulu, meski aku sangat merindukan kamu yang dulu. Aku tak ingin banyak menuntut darimu. Maafkan aku menulis ini untukmu, wahai lelakiku. Mungkin sekarang aku hanya belum bisa menerima sosokmu yang ‘baru’.

Aku tetap setia disini, disampingmu, dengan dirimu yang ‘baru’. Ntah apa orang itu masih kamu atau dia orang lain yang hanya menyerupaimu. Aku akan tetap setia menjadi kawan ceritamu dalam suka maupun duka, tempat kamu mencurahkan segala emosi jiwa, tempat kamu membenci waktu yang menyebalkan. Aku berusaha membuat telingaku tuli, membuat hati ku menjadi batu, hanya untuk mendengar segala amarah, bentakkan, bahkan cacianmu.

Andai kamu aku, bisa kah kamu melakukan apa yang telah aku lakukan kepadamu? Saat kamu mengeluarkan amarah, aku tak membalasnya. Saat kamu mengeluarkan curahan hatimu, aku tak menutup telingaku sedikitpun. Saat kamu membentakku, aku tetap tersenyum kepadamu. Saat kamu mengumpatku dengan kata-kata kotor, aku tetap berkata halus kepadamu. Bahkan saat kamu membuat ku menangis, aku selalu tetap melukiskan senyum di bibirmu. Aku selalu menyediakan pundakku meski saat itu aku berada diposisi paling lemah untukku sendiri. Karena bagiku, membuatmu menjadi kuat kembali adalah tugasku.

Apakah wanita lain yang membuatmu berubah saat ini bisa melakukan apa yang kulakukan padamu? Apakah wanita itu siap menerima segala curhan hatimu dan tidak menutup telinganya? Apakah wanita itu mampu menerima segala amarahmu tanpa membalasnya sedikitpun? Apakah wanita itu tetap tersenyum meski kamu membentaknya? Apakah wanita itu masih bisa berkata halus saat kamu mengumpatnya dengan kata-kata kotor? Dan apakah wanita itu akan selalu melukiskan senyum dibibirmu ketika kamu membuat airmatanya terjatuh? Apakah dia ada disaat kamu membutuhkan pundaknya?

Sadarlah, wahai lelakiku. Wanita yang saat ini mampu merubahmu akan pergi meninggalkanmu, mengisap semua kasih sayang yang pernah kamu berikan kepadaku. Dan ketika dia meninggalkanmu, kamu akan memohon dihadapanku untuk kembali kepadamu. Tapi sekarang kamu masih jadi pemenang, wahai lelakiku. Belum saatnya kamu merasakan itu.

Untuk sekarang kamu masih memandangku sebagai wanita murahan, bodoh, tolol, dan tak punya harga diri karena masih terus berdiri disampingmu. Kamu hanya memandangku dari sisi yang kamu benci. Kamu belum merasakan takut kehilangan wanita yang kamu anggap tak berguna ini. Rasa itu akan datang, wahai lelakiku, saat aku tak lagi memperdulikkanmu dan membuangmu sebagai seonggok sampah yang tak berguna dan kamu akan memohon untuk aku memungutmu kembali. Aku ini memang wanita bodoh yang bisa kamu jadikan boneka. Tapi aku tak sebodoh dirimu, yang mampu dirayu hanya lewat perhatiaan sesaat.

Lakukan lah hingga kamu puas. Dustai dan khianati lukai hatiku. Sampai lautan airmataku akan mengering karna terkuras olehmu. Namun hari esok, airmata ku akan menjadi airmatamu. Aku sebenarnya mampu untuk meninggalkan, melupakan bahkan membencimu kapanpun aku mau. Tapi sekarang, aku masih ingin bermain dengan permainanmu, wahai lelakiku. Aku ingin tau seberapa hebat kamu menyelesaikan permainan ini.

Permaianan mu terlalu asyik untuk ditinggalkan begitu saja meski ini saat menyiksaku. Dan ketika permainan ini berakhir aku akan pergi meninggalkanmu, karena memang aku tak ingin bermain dari awal lagi. Rasanya tak akan seseru dan seasyik ketika awal kamu mengajakku bermain. Karena aku telah tau, apa yang akan kamu lakukan kepadaku. Dan aku tau semua perlakuan kasarmu yang akan kamu berikan kepadaku. Kamu bukan lagi sesosok penyelamat dalam hidupku tapi kamu adalah ular berbisa.

Ya aku ini bagai seekor tikus kecil yang menjadi sajian lezat untuk ular sepertimu. Namun aku ingin melihat bila tak ada lagi tikus kecil ini masih mampukah kamu merasakan sajian lezat? Sama seperti kenyataan yang ada pada kita, aku ingin melihat apakan kamu mampu bila tak ada aku? Apa matamu masih tertutup rapat sehingga tak bisa melihat sosokku yang sebenarnya?

Biar waktu yang membuatmu sadar akan semuanya, wahai lelakiku. Biarkan aku pergi dan mengakhiri permainan ini dan perlahan-lahan pergi dari hidupmu. Izinkan aku menikmati keindahan alam setelah sekian lama terkurung dalam sangkar emasmu yang palsu. Dan kamu harus ingat ketika aku pergi aku tak akan ingin kembali kedalam sangkar emasmu lagi.


Terimakasih untukmu, wahai lelakiku, yang telah menjadikan aku sekuat baja, menjadikan aku sekokoh karang yang terus dihantam oleh ombak besar, menjadikan aku tembok yang hanya bisa diam disaat orang lain hendak menghancurkannya. Terimakasih atas segala kebahagian serta kesedihan yang kamu berikan. Aku anggap kamu salah satu warna dalam hidupku, wahai lelakiku. Tanpamu aku takkan mampu menjadi sesosok wanita yang tegar.

0 komentar:

Posting Komentar

Kamis, 08 Mei 2014

Hai Power Ranger

Diposting oleh Unknown di 08.10
Aku tak mengerti apa yang terjadi diantara kita. Semua berubah begitu saja. Apa yang membuat segalanya terasa asing? Apa semua karena salahku? Ntahlah... yang jelas semua memang telah berubah semenjak kejadian itu... Apa memang ini hukuman yang pantas untukku meski aku sudah berusaha memperbaikinya? Tak cukupkah kesempatan yang selalu kuberi untukmu untuk menjadikan kita seperti dulu lagi?

Aku seperti tak mengenalmu, wahai lelakiku. Aku tak mampu memahami mengapa aku bisa jatuh bahkan terlalu jatuh didalam hati seorang pria sepertimu. Pria yang selalu tak bisa menjaga janjinya, pria yang selalu mensia-sia kan kesempatan yang diberikan, pria yang sekarang mulai menjauh dari diriku, pria yang sekarang mulai malas berhubungan denganku. Tapi aku lebih tak mampu memahami diriku sendiri, mengapa aku bisa bertahan dengan mu hingga sekarang, wahai lelakiku?

Meski kamu telah berubah menjadi sesosok moster yang amat menakutkan dimataku namun kamu tetap sang bintang di hatiku. Mata dan hatiku seakan menjadi musuh. Tak pernah sejalan seperti dulu. Tak pernah bersahabat seperti awal kita bersama. Api yang dulu kamu nyalakan terasa hangat dipelukkan ku tapi sekarang api itu seakan mampu membakar tubuhku. Kesejukkan yang selalu di ucapakan dari bibir indahmu namun sekarang seperti es dingin yang mampu membekukan ku. Ntah sihir apa yang telah kamu tiupkan dikeduanya sehingga semuanya berubah begitu saja.

Wahai lelaki ku, bisakah kamu mengukur seberapa besar kesabaran ku dalam menghadapimu selama ini. Aku tak pernah memintamu untuk menjadi seperti dulu, meski aku sangat merindukan kamu yang dulu. Aku tak ingin banyak menuntut darimu. Maafkan aku menulis ini untukmu, wahai lelakiku. Mungkin sekarang aku hanya belum bisa menerima sosokmu yang ‘baru’.

Aku tetap setia disini, disampingmu, dengan dirimu yang ‘baru’. Ntah apa orang itu masih kamu atau dia orang lain yang hanya menyerupaimu. Aku akan tetap setia menjadi kawan ceritamu dalam suka maupun duka, tempat kamu mencurahkan segala emosi jiwa, tempat kamu membenci waktu yang menyebalkan. Aku berusaha membuat telingaku tuli, membuat hati ku menjadi batu, hanya untuk mendengar segala amarah, bentakkan, bahkan cacianmu.

Andai kamu aku, bisa kah kamu melakukan apa yang telah aku lakukan kepadamu? Saat kamu mengeluarkan amarah, aku tak membalasnya. Saat kamu mengeluarkan curahan hatimu, aku tak menutup telingaku sedikitpun. Saat kamu membentakku, aku tetap tersenyum kepadamu. Saat kamu mengumpatku dengan kata-kata kotor, aku tetap berkata halus kepadamu. Bahkan saat kamu membuat ku menangis, aku selalu tetap melukiskan senyum di bibirmu. Aku selalu menyediakan pundakku meski saat itu aku berada diposisi paling lemah untukku sendiri. Karena bagiku, membuatmu menjadi kuat kembali adalah tugasku.

Apakah wanita lain yang membuatmu berubah saat ini bisa melakukan apa yang kulakukan padamu? Apakah wanita itu siap menerima segala curhan hatimu dan tidak menutup telinganya? Apakah wanita itu mampu menerima segala amarahmu tanpa membalasnya sedikitpun? Apakah wanita itu tetap tersenyum meski kamu membentaknya? Apakah wanita itu masih bisa berkata halus saat kamu mengumpatnya dengan kata-kata kotor? Dan apakah wanita itu akan selalu melukiskan senyum dibibirmu ketika kamu membuat airmatanya terjatuh? Apakah dia ada disaat kamu membutuhkan pundaknya?

Sadarlah, wahai lelakiku. Wanita yang saat ini mampu merubahmu akan pergi meninggalkanmu, mengisap semua kasih sayang yang pernah kamu berikan kepadaku. Dan ketika dia meninggalkanmu, kamu akan memohon dihadapanku untuk kembali kepadamu. Tapi sekarang kamu masih jadi pemenang, wahai lelakiku. Belum saatnya kamu merasakan itu.

Untuk sekarang kamu masih memandangku sebagai wanita murahan, bodoh, tolol, dan tak punya harga diri karena masih terus berdiri disampingmu. Kamu hanya memandangku dari sisi yang kamu benci. Kamu belum merasakan takut kehilangan wanita yang kamu anggap tak berguna ini. Rasa itu akan datang, wahai lelakiku, saat aku tak lagi memperdulikkanmu dan membuangmu sebagai seonggok sampah yang tak berguna dan kamu akan memohon untuk aku memungutmu kembali. Aku ini memang wanita bodoh yang bisa kamu jadikan boneka. Tapi aku tak sebodoh dirimu, yang mampu dirayu hanya lewat perhatiaan sesaat.

Lakukan lah hingga kamu puas. Dustai dan khianati lukai hatiku. Sampai lautan airmataku akan mengering karna terkuras olehmu. Namun hari esok, airmata ku akan menjadi airmatamu. Aku sebenarnya mampu untuk meninggalkan, melupakan bahkan membencimu kapanpun aku mau. Tapi sekarang, aku masih ingin bermain dengan permainanmu, wahai lelakiku. Aku ingin tau seberapa hebat kamu menyelesaikan permainan ini.

Permaianan mu terlalu asyik untuk ditinggalkan begitu saja meski ini saat menyiksaku. Dan ketika permainan ini berakhir aku akan pergi meninggalkanmu, karena memang aku tak ingin bermain dari awal lagi. Rasanya tak akan seseru dan seasyik ketika awal kamu mengajakku bermain. Karena aku telah tau, apa yang akan kamu lakukan kepadaku. Dan aku tau semua perlakuan kasarmu yang akan kamu berikan kepadaku. Kamu bukan lagi sesosok penyelamat dalam hidupku tapi kamu adalah ular berbisa.

Ya aku ini bagai seekor tikus kecil yang menjadi sajian lezat untuk ular sepertimu. Namun aku ingin melihat bila tak ada lagi tikus kecil ini masih mampukah kamu merasakan sajian lezat? Sama seperti kenyataan yang ada pada kita, aku ingin melihat apakan kamu mampu bila tak ada aku? Apa matamu masih tertutup rapat sehingga tak bisa melihat sosokku yang sebenarnya?

Biar waktu yang membuatmu sadar akan semuanya, wahai lelakiku. Biarkan aku pergi dan mengakhiri permainan ini dan perlahan-lahan pergi dari hidupmu. Izinkan aku menikmati keindahan alam setelah sekian lama terkurung dalam sangkar emasmu yang palsu. Dan kamu harus ingat ketika aku pergi aku tak akan ingin kembali kedalam sangkar emasmu lagi.


Terimakasih untukmu, wahai lelakiku, yang telah menjadikan aku sekuat baja, menjadikan aku sekokoh karang yang terus dihantam oleh ombak besar, menjadikan aku tembok yang hanya bisa diam disaat orang lain hendak menghancurkannya. Terimakasih atas segala kebahagian serta kesedihan yang kamu berikan. Aku anggap kamu salah satu warna dalam hidupku, wahai lelakiku. Tanpamu aku takkan mampu menjadi sesosok wanita yang tegar.

0 komentar on "Hai Power Ranger"

Posting Komentar

About

blogspot tutorial,blog,tips blogging

Blogroll

My Blog List

Blogger templates

Blogger news

 

My World Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review