10 Juni 2014
Apa yang kamu rasakan ketika
divonis tidak akan mempunyai umur yang panjang? Apa yang akan kamu lakukan bila
hidup kamu di dunia ini dapat dihitung oleh jari? Apa yang bisa kamu berikan
kepada orang lain ketika hidup kamu saja bergantung dengan obat? Ya... itulah yang aku rasakan sekarang. Dunia
ku seakan gelap. Seakan tak ada cahaya sedikitpun di dalamnya. Ini yang
membuatku tak menyukai bahkan membenci seorang dokter dan rumah sakit. Seakan
hidup ku sangat bergantung dengan semua yang ada disana.
Hari ini dunia ku seakan
berhenti berputar. Kamu tahu apa yang dokter katakan padaku? “Kamu menderita
kanker kulit yang untuk saat ini belum ada cara pengobatannya, memang secara
fisik kamu terlihat sehat karena yang terserang hanya kulitmu, tapi tidak
dengan di dalam tubuh kamu, virus-virus itu sudah menjalar keorgan tubuh kamu
yang lain dan itu bisa menyebabkan kematian”. Ingin rasanya aku segara bangun
dan mengakhiri mimpi buruk itu namun aku sadar ini bukan mimpi tapi ini adalah
kenyataan hidupku; takdir.
Aku menyesal. Ya menyesal,
telah memeriksakan apa yang telah terjadi kepada tubuhku. Hari ini aku memang
sengaja mampir sebentar ke sebuah rumah sakit untuk menanyakan apa yang terjadi
pada kulitku. Sudah beberapa tahun ini muncul benjolan-benjolan aneh pada kulit
tanganku. Memang awalnya hanya tumbuh satu dan ku fikir tak akan tumbuh lagi.
Tapi ternyata aku salah setelah beberapa tahun benjolan itu kembali tumbuh
bahkan semakin banyak. Dan akhirnya aku pun mendapatkan sebuah jawaban yang tak
pernah ku bayangkan sebelumnya. Memang belakangan ini aku sering gampang
terserang sakit namun aku tak pernah berpikir kalau ini akibat dari
benjolan-benjolan yang ada di tanganku. Tuhan... Engkau begitu indah menuliskan
takdirku..
Sepanjang perjalanan pulang
aku hanya diam, bengong. Hanya satu yang ada dipikiranku “bagaimana cara aku memberitahu
keluargaku? Haruskah aku diam dan tidak memberitahu mereka?” . Aku pun
memutuskan untuk saat ini dan mungkin untuk selamanya aku tak akan pernah
memberitahu mereka akan penyakitku. Aku akan mencari kerja paruh waktu untuk
membeli pil-pil kecil pemanjang usiaku; obat. Meski ku akui harga pil-pil itu
terbilang tak murah namun aku akan berusaha agar tak membebani keluargaku.
Aku melakukan aktifitas
seperti biasanya walau dengan perasaan yang tak biasa karna aku sudah
mengetahui apa yang tersimpan dibalik tubuh mungilku ini. Aku tetap tersenyum,
bergembira agar tak ada seorang pun yang mengetahui betapa hancurnya perasaanku
saat perkataan dokter kemaren itu aku dengar.
“Aku iri sama kamu, kamu
cantik, pintar, baik, supel, selalu tersenyum bagai tak ada beban yang kamu
rasakan” ujar salah satu temanku.
Aku pun hanya mampu tersenyum
mendengar itu semua walau jujur hatiku menangis. Dia tak tahu bagaimana aku
sangat iri dengannya karena memiliki usia yang lebih lama dari ku. Dia tak tahu
dia iri dengan orang yang hidupnya sekarang hanya bergantung pada dokter dan
resep-resep yang diberikannya. Dia tak tahu seberapa berat beban yang kupikul
disisa usiaku di dunia ini. Dia tak tahu... dan tak akan pernah tahu.... karena
memang aku menyimpannya sendiri.
Aku memiliki rencana untuk
pergi diam-diam dari dunia ini.
Berharap tak ada yang pernah tahu dan tak ada yang pernah merasakan hal ini
kecuali hanya aku. Aku tak ingin melihat orang-orang menangis karena mereka
tahu apa yang aku alami. Aku hanya ingin melihat mereka tersenyum dan tertawa
di sisa usiaku.
Setelah mengetahui semua ini
aku menjadi seseorang yang selalu iri dengan orang lain. Aku iri dengan
teman-temanku yang dapat bergerak bebas tak seperti diri ku yang memiliki porsi
tersendiri untuk kegiatan. Jangan kan mengikuti kegiatan tak mengikuti kegiatan
pun tubuhku terasa sangat lemah.
Dunia ku menjadi sangat
terbatas. Aku tak bisa melakukan hal-hal yang aku inginkan. Memang sudah sejak
kecil aku terbiasa pulang pergi ke rumah sakit karena memang aku mudah sakit
tapi aku tak pernah berpikir di saat aku sangat ingin melewati masa pendewasaan, aku harus mempunyai penyakit yang serius.
Apa yang kamu rasakan bila
menjadi aku kawan? Harus menahan rasa sakit di hadapan semua orang agar mereka
tak mengasihani aku. Aku sangat malu bila di perlakukan orang lain layaknya
orang yang akan mati esok.
Aku sadar akan penyakitku,
akan kelemahanku. Namun jujur aku masih ingin terus melakukan aktifitas
layaknya orang sehat. Terkadang aku berpura-pura melupakan apa yang di derita
oleh tubuhku meski aku harus menahan rasa sakitnya sendiri. Apa yang bisa aku
lakukan untuk orang lain bila hidup ku saja selalu memiliki batasan? Aku ingin
melihat senyum orang-orang yang menyayangiku lebih lama lagi Tuhan. Aku ingin
terus mejadi alasan mereka tersenyum dan tertawa Tuhan.
Tuhan apa salah ku? Apakah
dosa ku terlalu banyak sehingga Engkau memberikan ini semua? Apa Engkau begitu
menyayangiku sehingga memberikan ku nikmat yang begitu indah sekaligus sulit?
Tuhan jika memang ini semua Engkau berikan untuk menghapus dosa-dosa ku izinkan
aku menerima ini dengan ikhlas. Tuhan jika Engkau memang begitu menyayangiku
bolehkan aku menjadi sesosok manusia yang tegar?
Sekarang rumah sakit dan obat
seakan menjadi kawan hidupku namun tak berarti aku berhenti membenci mereka,
aku tetap tak menyukai mereka. Aku menjadi sangat akrab dengan dokter yang
menangani penyakitku ini, dia seperti orang tua kedua untukku. Suster-suster
bagai menjadi teman-temanku yang setia melayaniku. Dan obat... seakan menjadi
makanan favorit ku karena tiada hari tanpa aku menyatap mereka.
Hari ini aku tak sengaja
bertemu dengan salah satu seseorang yang pernah menjadi penghuni hatiku dalam
waktu yang cukup lama. Dia menanyakan kabarku dan apa saja kegiatanku saat ini.
Ingin rasanya aku menceritakan semuanya karena memang terkadang aku merasa
perlu membagi kisah ini di saat aku merasa tak cukup tegar untuk melewati ini
semua sendiri. Namun
aku urungkan niatku, karena aku sadar, dia bukan siapa-siapa aku lagi dan
akupun bukan siapa-siapa lagi untuknya.
Dia menanyakan satu hal yang
cukup menggelitik telingaku “apa aku membencimu?” tiga kata yang membuat ku
tertawa dalam hati. Andai dia tahu apa yang menimpa diriku saat ini apa mungkin
dia masih bisa menanyakan hal tersebut?
Membenci. Aku hampir lupa
dengan kata itu jika dia tak mengatakannya padaku. Karena untuk saat ini yang
aku inginkan hanya kebahagian di sisa usiaku yang tak akan bertahan lama. Andai
dia tahu waktu ku terlalu berharga hanya untuk membenci dirinya lebih tepatnya
membenci masa lalu kita. Aku merasa sangat bodoh jika harus menghabiskan waktu
untuk sebuah kebencian.
Dan hal lain yang membuatku
sangat terkejut seseorang yang selama ini ku nanti hadir kembali. Seseorang
yang mampu membuatku berdiri tegak sendiri dan mengacukan pria lain yang
mencoba mendekatiku. Seseorang yang berhasil memenangkan hatiku semenjak kita
kecil.
Hatiku sangat bahagia namun
tak bisa dipungkiri pula hatiku pun menjadi sakit. Mengapa kamu baru kembali
sekarang? Mengapa disaat aku tahu aku tak dapat bertahan lama lagi di dunia ini
kamu hadir kembali? Mengapa tak dari dulu sebelum aku mengetahui segalanya?
Mengapa?
Dan kamu datang kali ini bukan
hanya untuk sekedar hadir lalu menghilang lagi namun kamu datang dan meminta ku
untuk menjadi pendamping hidup kamu selamanya. Selamanya? Maksudmu sampai aku
menyerah kepada waktu? Ah.. aku tahu kamu berkata seperti itu karena kamu juga
belum mengetahui apa yang aku alami.
Perkataan kamu bagai sihir
yang mampu membolak-balik hatiku dalam hitungan detik. Aku merasa sangat
bahagia bahkan sangat amat bahagia karena kamu menepati janji dan kesabaran ku
berbuah manis. Namun... aku pun merasa sangat amat sedih karena mungkin aku tak
akan mampu mendampingi dirimu untuk selamanya.
Aku tak mampu untuk menyiapkan
sarapan dan pakaianmu ketika hendak pergi kerja. Aku tak mampu menunggumu
pulang kerja dan
menyajikan masakan ku ketika malam menjelang. Aku tak mampu berdiri di
belakangmu untuk merasakan betapa beruntungnya aku memiliki imam seperti
dirimu. Aku tak akan mampu memberikanmu anak-anak yang sangat lincah dan
pintar. Aku tak akan mampu menemanimu untuk menghabiskan usia tua dirimu....
“Do you marry me?” ujarmu
kepadaku.
Dan aku pun terdiam cukup lama
untuk mencerna perkataanmu, menyiapkan beribu satu alasan untuk menolak dirimu
dan... menahan airmata ku yang hendak bercucuran ketika aku membohongi
perasaanku...
“Maaf aku tak bisa, aku sudah
tak mencintaimu lagi, aku sudah mempunyai pria lain yang aku sayangi” ucap
bibir ku yang penuh dengan segala kebohongan.
Kalimat itu adalah kalimat
terbodoh yang pernah aku ucapkan selama aku hidup. Kamu tahu betapa hancurnya
hatiku ketika aku harus mengatakan itu semua? Kamu tahu bagaimana aku mencoba
menahan airmataku agar aku terlihat tegar dan seolah-olah tak perduli denganmu?
Meski jujur saat itu aku sangat ingin memeluk dirimu dan mengatakan “aku tak
akan bisa menolak”.
Apa yang diucapkan bibirku
sangat berbeda jauh dengan apa yang ada dihatiku. Bagai langit dan bumi,
kalimat itu bagai petir yang menyambar hatiku. Maafkan aku sayang, aku harus
membohongi dirimu bahkan membohongi
diriku sendiri. Maafkan aku sayang, harus membuatmu meneteskan airmata saat itu
dan jika kamu tahu pada saat itu pula hatiku sedang turun hujan dengan sangat
derasnya.
Maafkan aku sayang, yang membiarkan mimpi-mimpi kita dahulu menjadi
hancur seperti ini.
Jika membohongimu adalah hal
yang terbaik untuk menyelamatkan kebahagiaanmu kelak di usia tua, aku ikhlas sayang. Aku ikhlas menukar
airmataku dengan senyum di bibirmu ketika kamu menjadi seorang kakek.
Hari itu akan menjadi hariku
yang sangat menyakitkan bahkan lebih sakit ketika aku mendapatkan vonis dari
sang dokter. Hari itu dan penyakitku sama, sama-sama saling mematikan untuk diriku.
Aku pun menjadi menjauhi
dirimu bahkan untuk sekedar membalas pesan singkatmu saja aku tak ingin. Kamu
terus menanyakan perihal mengapa aku menolak dirimu dan kamu begitu yakin ada
sesuatu hal yang aku sembunyikan. Kamu bilang aku menolak dirimu bukan karena
pria lain namun karena aku menutupi sesuatu hal.
Sayang... mengapa dirimu
selalu mengerti apa yang tak pernah aku ucapkan? Mengapa kamu selalu mengetahui
apa yang ada di otak dan hatiku? Sayang... perilaku mu yang seperti ini yang
sejak dahulu selalu membuatku tak bisa jauh dari bayangan dirimu...
Namun untuk sekarang menjauh
dari bayanganmu adalah hal yang sangat harus aku lakukan. Aku melakukan ini
semua demi dirimu sayang, demi kebahagiaan di masa depanmu. Aku ingin membuatmu
melupakanku bahkan membenciku agar kamu dapat membangun masa depan dengan
wanita yang mampu mendampingimu selamanya...
Hari berganti hari, dan
kesehatanku pun semakin memburuk terlebih dengan apa yang terjadi dengan
dirinya membuat diriku semakin tak mengontrol kesehatan. Nafsu makanku mendadak
sangat hilang bahkan terkadang obat yang biasa ku santap setiap hari sekarang
tak terjamah dengan tanganku.
Kondisi ku yang membuatku
harus berada disini. Menghabiskan waktu dengan selang infus. Mengabaikan
kewajiban ku sebagai seorang mahasiswa. Dan membuat beban orang tuaku semakin
berat. Tapi tetap aku meminta dokter tak memberitahukannya kepada mereka meski
awalnya sang dokter tak ingin menuruti permintaanku namun akhirnya dia
mengiyakannya mungkin karena dia merasa kasihan dengan diriku ini.
Suatu ketika dokterku
menanyakan hal yang sangat aneh, pertanyaan yang lebih mendekati ke masalah
hati.
“Kamu ngga punya pasangan?”
tanya dokter kepada diriku
“Ngga dok, mana ada yang mau
sama aku toh umurku bisa dihitung dengan jari.” Jawabku sekenanya.
“Jangan begitu, kamu cantik,
baik, pintar pula mana mungkin tak ada pria yang mau dengan kamu hanya karena
masalah penyakitmu.” Bela sang dokter.
“Hahaha dokter bisa aja, aku
ngga kepikiran buat nyari pasangan dok.”
“Ngga usah nyari dokter jodohin
aja ya sama anak dokter dia seumuran sama kamu.”
“Ah dokter bercandanya ngga
lucu, masa iya mau anaknya di jodohin sama orang yang hidupnya aja bergantung
sama resep-resep yang dikasih mamanya.” Candaku.
“Dokter ngga bercanda, dokter
udah kenal lama siapa kamu, dan dokter tahu kamu yang terbaik untuk anak
dokter. Dia kasihan udah pernah ngelamar perempuan namun ditolak karena alasan
si perempuan sudah memiliki pasangan yang baru tapi anak dokter masih bersikap
keras kalau sebenarnya si perempuan itu tak mengatakan yang sejujurnya.” Curhat
si dokter.
“Terus dokter mau buat anak
dokter lupa sama perempuan itu lewat aku?”
“Dokter cuma mau dia belajar
menerima perempuan lain dan melupakan perempuan yang jelas-jelas tidak
memperdulikan perasaannya.”
“Tapi aku cuma seorang pasien
dok.”
“Iya tapi kamu pasien
istimewa, pokoknya dokter yang ngatur semuanya.”
Aku tak mengerti apa yang dilakukan sang dokter
dan mengapa sang dokter menawarkan hal yang menurut ku saja itu adalah hal yang
tak mungkin. Apa begitu dalam dokter mengasihani ku hingga mengorbankan anaknya
kepadaku? Ntahlah aku tak mengerti dengan semua ini...
Beberapa hari kemudian aku pun
kembali kerumah sakit untuk melakukan checkup rutin. Dan tiba-tiba aku merasa
seperti melihat sosok dia. Ah.. mungkin ini efek kangen ku saja kepada dirinya.
Dan ketika aku sedang konsul
dengan dokter tiba-tiba seorang pria datang tanpa mengetuk pintu terlebih
dahulu, dan ternyata pria itu adalah dia... benar-benar dia...
“Ah kebetulan kamu kesini,
kamu datang tepat pada waktunya. Ini perempuan yang kemarin mama ceritakan
beberapa hari yang lalu dan ini anak dokter yang ingin dokter kenalkan sama
kamu.” Ujar dokter memecahkan keheningan dan kebingungan kita.
“Kamu...” ujarnya
Aku hanya diam.
“Loh jadi kalian sudah saling
kenal, ini yang dinamakan jodoh.”
“Apa betul kamu yang menderita
penyakit yang tak bisa disembuhkan itu?”
Dan sekali lagi aku hanya bisa
diam.
“Kamu jangan nanya seperti itu
dong, maafin dia ya dia emang kalau ngomong suka ngga difikir dulu.”
Aku pun memutuskan untuk
berlari dan meninggalkan ruangan itu sebelum aku tak kuasa menahan airmata.
“Berhenti! Kenapa lari? Kenapa
kamu ngga jawab semua pertanyaanku?” ujarnya yang terus mengikutiku.
Aku hanya masih membisu dan
membiarkan airmataku yang menjelaskan kepadanya.
“Apa ini alasan kamu menolak
diriku? Kenapa kamu harus berbohong? Kenapa kamu tak menceritakannya kepadaku?”
“Aku... aku tak ada niat
berbohong aku hanya ingin menyelamatkan masa depanmu, aku tak sanggup membuat
orang yang kucintai mengetahui apa yang aku alami.” Tangisku pun pecah
dipelukkanya.
Dibawah hujan yang sangat
deras aku membiarkan airmataku ikut terbawa oleh air hujan, membawa rasa sakitku, membawa segala kegelisahan hatiku.
Membiarkan dirinya menghangatkan diriku di dinginnya hujan yang turun saat ini.
Dan hari itu semua rahasiaku kepadanya terungkap semua dan mamanya yang
ternyata dokterku pun kaget mendengarkan cerita kita berdua...
5 Juli 2015
Dan saat itu tiba... saat
dimana seseorang menyerah dengan sang waktu. Saat dimana seseorang tak bisa
berbuat apa-apa ketika sang malaikat menginginkan nyawanya. Saat dimana segala
macam rasa sakit yang dirasakan menghilang. Saat dimana alat-alat, obat dan
dokter tak bisa memperpanjang usianya kembali.
Saat itulah semua rahasiaku
terungkap didepan keluargaku dan teman-temanku. Hari itu aku merasakan hujan
yang begitu sangat amat deras yang pernah kualami seumur hidupku. Hujan yang
membuat segalanya hancur dan meninggalkan bekas
yang mendalam. Hujan yang tak akan pernah bisa menghadirkan sebuah pelangi.
Andai aku bisa hidup lebih
lama lagi... mungkin sekarang aku dapat berada di tengah-tengah keluarga ku
saat ini, tertawa dan melakukan hal gila bersama teman-temanku, merasakan
menjadi seorang istri dan ibu di hangatnya keluarga kecilku. Andai Engkau
memberiku waktu lebih lama lagi... mungkin aku tak akan membuat orang-orang
yang menyayangiku mengeluarkan airmata. Dan andai aku dapat kembali... aku akan
menghapus airmata orang-orang yang ku buat menangis. Maafkan aku harus pergi
terlebih dahulu dari kalian semua... maafkan aku yang tak mampu berbuat apa-apa
ketika malaikat maut menginginkan nyawaku. Maafkan... dan terimakasih telah
membuat ku menjadi orang yang berguna di sisa umurku ketika aku dapat membuat
kalian semua tersenyum bahkan tertawa... andai aku dapat bertahan di dunia
kalian lebih lama lagi....
Dan
kamu… Terimakasih atas segala cinta yang telah kamu berikan di sisa
usiaku yang tak lama. Terimakasih atas segala macam pengertian, perhatian yang
kamu curahkan untuk wanita yang tak mampu menjadi pendamping hidupmu selamanya.
Terimakasih atas semua waktu yang indah saat aku masih berada di dunia kamu.
Terimakasih telah menghadirkan pelangi yang kubawa hingga mata ini tak bisa
melihatnya lagi. Aku akan selalu mencintaimu meski aku tak mampu berada
disampingmu. Aku akan selalu ada disaat kamu membutuhkan aku meski aku tak akan
terlihat olehmu. Aku sangat mencintaimu dan akan selalu mencintaimu.
Untuk kalian yang dapat hidup lebih lama
lagi…
Bersyukurlah atas waktu yang telah Tuhan
berikan kepada kalian, nikmatilah setiap nafas yang mampu kalian hirup setiap
hari dengan cuma-cuma, jalani setiap hidup kalian dengan langkah yang
bermanfaat karena akan ada saatnya dimana kalian akan menyerah dengan waktu,
akan ada saatnya dimana apa yang kalian dapatkan dengan percuma dapat hilang
begitu saja, dan akan ada saatnya langkah kalian di dunia ini akan berakhir…
Dari yang ingin hidup lebih lama lagi...