Hari ini seperti biasa
kamu mengirimkan pesan teks yang sama “jangan lupa makan dan sholat” dan
seperti biasa aku tak membalasnya. Bukan aku mengacuhkanmu wahai wanita
idamanku, bukan aku tak memperdulikanmu wahai wanita pencuri hati ini sejak
tujuh tahun yang lalu... hanya saja aku merasa belum pantas berdiri
disampingmu, mengenggam tanganmu, memeluk dirimu disaat kamu merindukan
kehadiranku, mencium keningmu ketika kamu merasa gelisah meski aku tahu bahwa
itu semua yang kamu harapkan dari diriku yang kerdil ini.
Mungkin kamu berpikir
aku tak menyayangimu seperti kamu menyayangiku namun kamu keliru, cinta. Aku
menyayangimu bahkan lebih menyayangimu lebih dari yang kamu tau. Aku selalu
memperhatikanmu dari kejauhan. Aku melihat mu berangkat kuliah, aku mengamati
ketika kamu keluar rumah dengan siapa dan untuk apa. Memang aku pengecut bahkan
terlalu pengecut untuk tampil dihadapanmu, aku hanya mampu bersembunyi dibalik
bayanganmu. Ingin rasanya ketika kamu meneteskan airmata untukku, aku hadir
dihadapanmu dan mengapus airmata itu dengan lembut. Aku ingin berlari memelukmu
ketika kamu sedang merindukan aku.
Sayang... kamu harus
tau aku pun tersiksa dengan keadaan ini bahkan aku lebih tersiksa darimu.
Ketika aku melihatmu asik dengan pria lain, hati ku sakit bahkan sangat sakit.
Ketika pria lain hadir mencoba menggantikan posisiku dihatimu aku marah
kepadamu bahkan aku sangat membencimu namun aku sadar kamu melakukan itu semua
karena kesalahanku. Ketika pria lain yang menghapus airmatamu dan
menggantikannya dengan senyum manis dipipimu aku menangis sayang.
Wahai wanita yang hanya
mampu ku sebut namamu dalam doa... perasaanku tak pernah berubah sedikitpun
sejak tujuh tahun yang lalu. Maafkan aku yang terkadang terkesan memberikan
harapan kosong untukmu, namun kamu harus mengerti sayang itu adalah doa yang
selalu ku panjatkan kepada-Nya untuk kita.
Bukan kamu yang menjadi
penganggum rahasiaku namun aku yang menjadi penganggum rahasiamu. Aku memang
tak menunjukkan itu kepadamu sama seperti halnya kamu yang berusaha menunjukkan
itu kepadaku. Aku tak pernah menggunakan media sosial untuk mengutarakan
perasaanku.
Hei tulang rusukku...
mungkin disaat kamu merindukan ku disaat itu juga aku sedang tak mampu menahan
kerindukanku kepadamu. Mampukah kamu mendengar suara ku yang selalu
memanggilmu? Mampukah kamu merasakan bagaimana aku tak ingin kamu melupakan
aku? Maafkan aku yang membuatmu terjebak oleh perasaan yang sangat menyakitkan
ini. Maafkan aku yang harus membawamu kedalam kehidupanku yang gelap ini.
Maafkan aku yang menyayangimu namun selalu membuatmu menangis....
Sampai kapanpun aku tak
pernah mampu untuk menyetuhmu, tak mampu bersanding denganmu, tak mampu
menghabiskan waktu bersama dengan penuh cinta. Aku hanya mampu berdoa semoga
kamu selalu bahagia dan menemukan seseorang yang jauh lebih baik dariku.
Aku tahu segalanya
sudah terlambat untuk berkata dihadapanmu “aku sangat mencintaimu tulang
rusukku” karena kita sudah ada didunia yang berbeda... Aku mohon jangan
membenci aku dengan semua ketololanku selama ini. Aku mohon jangan lupakanku
dengan semua kepergianku yang secara tiba-tiba ini. Aku tak sanggup bila orang
yang selalu kucintai membenciku. Aku hanya tak ingin membuatmu lebih merasa
sakit lagi bila kamu mengetahui semua ini. Aku menunggumu disini wahai tulang
rusukku, dirumah kita. Kamu tak perlu menungguku pulang karena meski aku pulang
kamu tak akan mampu melihatku. Aku yang
akan menunggumu pulang wanita idamanku.
Dan aku akan selalu ada
bersama bayanganmu. Aku akan selalu ada disampingmu ketika kamu merindukanku.
Aku akan menghapus airmatamu meski kamu tak mampu melihatku. Tak apa bila kamu
tak mampu melihatku aku sudah bahagia bila aku selalu dapat melihatmu setiap
hari, membalas atas apa yang selama ini telah aku tinggalkan. Melakukan hal-hal
yang seharusnya aku lakukan ketika kamu masih mampu melihatku. Aku berjanji tak
akan meninggalkanmu seperti dulu. Aku akan memberikanmu kebahagian dengan cara
ku sendiri, dengan cara yang berbeda...
Dari Tulang Rusukmu yang Patah...


0 komentar:
Posting Komentar