Welcome

Tulisan ini ada bukan karena aku tapi karena kalian. Ini bukan kisah tentang aku tapi kisah tentang kalian. Aku menulis ini bukan untuk aku tapi untuk kalian. Ini bukan hanya tentang perasaan aku tapi tentang perasaan kalian....


Rabu, 18 Juni 2014

Andai aku dapat pulang...

Diposting oleh Unknown di 01.30 0 komentar

10 Juni 2014

Apa yang kamu rasakan ketika divonis tidak akan mempunyai umur yang panjang? Apa yang akan kamu lakukan bila hidup kamu di dunia ini dapat dihitung oleh jari? Apa yang bisa kamu berikan kepada orang lain ketika hidup kamu saja bergantung dengan obat?  Ya... itulah yang aku rasakan sekarang. Dunia ku seakan gelap. Seakan tak ada cahaya sedikitpun di dalamnya. Ini yang membuatku tak menyukai bahkan membenci seorang dokter dan rumah sakit. Seakan hidup ku sangat bergantung dengan semua yang ada disana.


Hari ini dunia ku seakan berhenti berputar. Kamu tahu apa yang dokter katakan padaku? “Kamu menderita kanker kulit yang untuk saat ini belum ada cara pengobatannya, memang secara fisik kamu terlihat sehat karena yang terserang hanya kulitmu, tapi tidak dengan di dalam tubuh kamu, virus-virus itu sudah menjalar keorgan tubuh kamu yang lain dan itu bisa menyebabkan kematian”. Ingin rasanya aku segara bangun dan mengakhiri mimpi buruk itu namun aku sadar ini bukan mimpi tapi ini adalah kenyataan hidupku; takdir.

Aku menyesal. Ya menyesal, telah memeriksakan apa yang telah terjadi kepada tubuhku. Hari ini aku memang sengaja mampir sebentar ke sebuah rumah sakit untuk menanyakan apa yang terjadi pada kulitku. Sudah beberapa tahun ini muncul benjolan-benjolan aneh pada kulit tanganku. Memang awalnya hanya tumbuh satu dan ku fikir tak akan tumbuh lagi. Tapi ternyata aku salah setelah beberapa tahun benjolan itu kembali tumbuh bahkan semakin banyak. Dan akhirnya aku pun mendapatkan sebuah jawaban yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Memang belakangan ini aku sering gampang terserang sakit namun aku tak pernah berpikir kalau ini akibat dari benjolan-benjolan yang ada di tanganku. Tuhan... Engkau begitu indah menuliskan takdirku..

Sepanjang perjalanan pulang aku hanya diam, bengong. Hanya satu yang ada dipikiranku “bagaimana cara aku memberitahu keluargaku? Haruskah aku diam dan tidak memberitahu mereka?” . Aku pun memutuskan untuk saat ini dan mungkin untuk selamanya aku tak akan pernah memberitahu mereka akan penyakitku. Aku akan mencari kerja paruh waktu untuk membeli pil-pil kecil pemanjang usiaku; obat. Meski ku akui harga pil-pil itu terbilang tak murah namun aku akan berusaha agar tak membebani keluargaku.

Aku melakukan aktifitas seperti biasanya walau dengan perasaan yang tak biasa karna aku sudah mengetahui apa yang tersimpan dibalik tubuh mungilku ini. Aku tetap tersenyum, bergembira agar tak ada seorang pun yang mengetahui betapa hancurnya perasaanku saat perkataan dokter kemaren itu aku dengar.

“Aku iri sama kamu, kamu cantik, pintar, baik, supel, selalu tersenyum bagai tak ada beban yang kamu rasakan” ujar salah satu temanku.

Aku pun hanya mampu tersenyum mendengar itu semua walau jujur hatiku menangis. Dia tak tahu bagaimana aku sangat iri dengannya karena memiliki usia yang lebih lama dari ku. Dia tak tahu dia iri dengan orang yang hidupnya sekarang hanya bergantung pada dokter dan resep-resep yang diberikannya. Dia tak tahu seberapa berat beban yang kupikul disisa usiaku di dunia ini. Dia tak tahu... dan tak akan pernah tahu.... karena memang aku menyimpannya sendiri.

Aku memiliki rencana untuk pergi diam-diam dari dunia ini. Berharap tak ada yang pernah tahu dan tak ada yang pernah merasakan hal ini kecuali hanya aku. Aku tak ingin melihat orang-orang menangis karena mereka tahu apa yang aku alami. Aku hanya ingin melihat mereka tersenyum dan tertawa di sisa usiaku.

Setelah mengetahui semua ini aku menjadi seseorang yang selalu iri dengan orang lain. Aku iri dengan teman-temanku yang dapat bergerak bebas tak seperti diri ku yang memiliki porsi tersendiri untuk kegiatan. Jangan kan mengikuti kegiatan tak mengikuti kegiatan pun tubuhku terasa sangat lemah.

Dunia ku menjadi sangat terbatas. Aku tak bisa melakukan hal-hal yang aku inginkan. Memang sudah sejak kecil aku terbiasa pulang pergi ke rumah sakit karena memang aku mudah sakit tapi aku tak pernah berpikir di saat aku sangat ingin melewati masa pendewasaan, aku harus mempunyai penyakit yang serius.

Apa yang kamu rasakan bila menjadi aku kawan? Harus menahan rasa sakit di hadapan semua orang agar mereka tak mengasihani aku. Aku sangat malu bila di perlakukan orang lain layaknya orang yang akan mati esok.

Aku sadar akan penyakitku, akan kelemahanku. Namun jujur aku masih ingin terus melakukan aktifitas layaknya orang sehat. Terkadang aku berpura-pura melupakan apa yang di derita oleh tubuhku meski aku harus menahan rasa sakitnya sendiri. Apa yang bisa aku lakukan untuk orang lain bila hidup ku saja selalu memiliki batasan? Aku ingin melihat senyum orang-orang yang menyayangiku lebih lama lagi Tuhan. Aku ingin terus mejadi alasan mereka tersenyum dan tertawa Tuhan.

Tuhan apa salah ku? Apakah dosa ku terlalu banyak sehingga Engkau memberikan ini semua? Apa Engkau begitu menyayangiku sehingga memberikan ku nikmat yang begitu indah sekaligus sulit? Tuhan jika memang ini semua Engkau berikan untuk menghapus dosa-dosa ku izinkan aku menerima ini dengan ikhlas. Tuhan jika Engkau memang begitu menyayangiku bolehkan aku menjadi sesosok manusia yang tegar?

Sekarang rumah sakit dan obat seakan menjadi kawan hidupku namun tak berarti aku berhenti membenci mereka, aku tetap tak menyukai mereka. Aku menjadi sangat akrab dengan dokter yang menangani penyakitku ini, dia seperti orang tua kedua untukku. Suster-suster bagai menjadi teman-temanku yang setia melayaniku. Dan obat... seakan menjadi makanan favorit ku karena tiada hari tanpa aku menyatap mereka.

Hari ini aku tak sengaja bertemu dengan salah satu seseorang yang pernah menjadi penghuni hatiku dalam waktu yang cukup lama. Dia menanyakan kabarku dan apa saja kegiatanku saat ini. Ingin rasanya aku menceritakan semuanya karena memang terkadang aku merasa perlu membagi kisah ini di saat aku merasa tak cukup tegar untuk melewati ini semua sendiri. Namun aku urungkan niatku, karena aku sadar, dia bukan siapa-siapa aku lagi dan akupun bukan siapa-siapa lagi untuknya.

Dia menanyakan satu hal yang cukup menggelitik telingaku “apa aku membencimu?” tiga kata yang membuat ku tertawa dalam hati. Andai dia tahu apa yang menimpa diriku saat ini apa mungkin dia masih bisa menanyakan hal tersebut?

Membenci. Aku hampir lupa dengan kata itu jika dia tak mengatakannya padaku. Karena untuk saat ini yang aku inginkan hanya kebahagian di sisa usiaku yang tak akan bertahan lama. Andai dia tahu waktu ku terlalu berharga hanya untuk membenci dirinya lebih tepatnya membenci masa lalu kita. Aku merasa sangat bodoh jika harus menghabiskan waktu untuk sebuah kebencian.

Dan hal lain yang membuatku sangat terkejut seseorang yang selama ini ku nanti hadir kembali. Seseorang yang mampu membuatku berdiri tegak sendiri dan mengacukan pria lain yang mencoba mendekatiku. Seseorang yang berhasil memenangkan hatiku semenjak kita kecil.

Hatiku sangat bahagia namun tak bisa dipungkiri pula hatiku pun menjadi sakit. Mengapa kamu baru kembali sekarang? Mengapa disaat aku tahu aku tak dapat bertahan lama lagi di dunia ini kamu hadir kembali? Mengapa tak dari dulu sebelum aku mengetahui segalanya? Mengapa?

Dan kamu datang kali ini bukan hanya untuk sekedar hadir lalu menghilang lagi namun kamu datang dan meminta ku untuk menjadi pendamping hidup kamu selamanya. Selamanya? Maksudmu sampai aku menyerah kepada waktu? Ah.. aku tahu kamu berkata seperti itu karena kamu juga belum mengetahui apa yang aku alami.

Perkataan kamu bagai sihir yang mampu membolak-balik hatiku dalam hitungan detik. Aku merasa sangat bahagia bahkan sangat amat bahagia karena kamu menepati janji dan kesabaran ku berbuah manis. Namun... aku pun merasa sangat amat sedih karena mungkin aku tak akan mampu mendampingi dirimu untuk selamanya.

Aku tak mampu untuk menyiapkan sarapan dan pakaianmu ketika hendak pergi kerja. Aku tak mampu menunggumu pulang kerja dan menyajikan masakan ku ketika malam menjelang. Aku tak mampu berdiri di belakangmu untuk merasakan betapa beruntungnya aku memiliki imam seperti dirimu. Aku tak akan mampu memberikanmu anak-anak yang sangat lincah dan pintar. Aku tak akan mampu menemanimu untuk menghabiskan usia tua dirimu....

“Do you marry me?” ujarmu kepadaku.

Dan aku pun terdiam cukup lama untuk mencerna perkataanmu, menyiapkan beribu satu alasan untuk menolak dirimu dan... menahan airmata ku yang hendak bercucuran ketika aku membohongi perasaanku...

“Maaf aku tak bisa, aku sudah tak mencintaimu lagi, aku sudah mempunyai pria lain yang aku sayangi” ucap bibir ku yang penuh dengan segala kebohongan.

Kalimat itu adalah kalimat terbodoh yang pernah aku ucapkan selama aku hidup. Kamu tahu betapa hancurnya hatiku ketika aku harus mengatakan itu semua? Kamu tahu bagaimana aku mencoba menahan airmataku agar aku terlihat tegar dan seolah-olah tak perduli denganmu? Meski jujur saat itu aku sangat ingin memeluk dirimu dan mengatakan “aku tak akan bisa menolak”.

Apa yang diucapkan bibirku sangat berbeda jauh dengan apa yang ada dihatiku. Bagai langit dan bumi, kalimat itu bagai petir yang menyambar hatiku. Maafkan aku sayang, aku harus membohongi dirimu bahkan membohongi diriku sendiri. Maafkan aku sayang, harus membuatmu meneteskan airmata saat itu dan jika kamu tahu pada saat itu pula hatiku sedang turun hujan dengan sangat derasnya.

Maafkan aku sayang, yang membiarkan mimpi-mimpi kita dahulu menjadi hancur seperti ini.
Jika membohongimu adalah hal yang terbaik untuk menyelamatkan kebahagiaanmu kelak di usia tua, aku ikhlas sayang. Aku ikhlas menukar airmataku dengan senyum di bibirmu ketika kamu menjadi seorang kakek.

Hari itu akan menjadi hariku yang sangat menyakitkan bahkan lebih sakit ketika aku mendapatkan vonis dari sang dokter. Hari itu dan penyakitku sama, sama-sama saling mematikan untuk diriku.

Aku pun menjadi menjauhi dirimu bahkan untuk sekedar membalas pesan singkatmu saja aku tak ingin. Kamu terus menanyakan perihal mengapa aku menolak dirimu dan kamu begitu yakin ada sesuatu hal yang aku sembunyikan. Kamu bilang aku menolak dirimu bukan karena pria lain namun karena aku menutupi sesuatu hal.

Sayang... mengapa dirimu selalu mengerti apa yang tak pernah aku ucapkan? Mengapa kamu selalu mengetahui apa yang ada di otak dan hatiku? Sayang... perilaku mu yang seperti ini yang sejak dahulu selalu membuatku tak bisa jauh dari bayangan dirimu...

Namun untuk sekarang menjauh dari bayanganmu adalah hal yang sangat harus aku lakukan. Aku melakukan ini semua demi dirimu sayang, demi kebahagiaan di masa depanmu. Aku ingin membuatmu melupakanku bahkan membenciku agar kamu dapat membangun masa depan dengan wanita yang mampu mendampingimu selamanya...

Hari berganti hari, dan kesehatanku pun semakin memburuk terlebih dengan apa yang terjadi dengan dirinya membuat diriku semakin tak mengontrol kesehatan. Nafsu makanku mendadak sangat hilang bahkan terkadang obat yang biasa ku santap setiap hari sekarang tak terjamah dengan tanganku.

Kondisi ku yang membuatku harus berada disini. Menghabiskan waktu dengan selang infus. Mengabaikan kewajiban ku sebagai seorang mahasiswa. Dan membuat beban orang tuaku semakin berat. Tapi tetap aku meminta dokter tak memberitahukannya kepada mereka meski awalnya sang dokter tak ingin menuruti permintaanku namun akhirnya dia mengiyakannya mungkin karena dia merasa kasihan dengan diriku ini.

Suatu ketika dokterku menanyakan hal yang sangat aneh, pertanyaan yang lebih mendekati ke masalah hati.

“Kamu ngga punya pasangan?” tanya dokter kepada diriku

“Ngga dok, mana ada yang mau sama aku toh umurku bisa dihitung dengan jari.” Jawabku sekenanya.

“Jangan begitu, kamu cantik, baik, pintar pula mana mungkin tak ada pria yang mau dengan kamu hanya karena masalah penyakitmu.” Bela sang dokter.

“Hahaha dokter bisa aja, aku ngga kepikiran buat nyari pasangan dok.”

“Ngga usah nyari dokter jodohin aja ya sama anak dokter dia seumuran sama kamu.”

“Ah dokter bercandanya ngga lucu, masa iya mau anaknya di jodohin sama orang yang hidupnya aja bergantung sama resep-resep yang dikasih mamanya.” Candaku.

“Dokter ngga bercanda, dokter udah kenal lama siapa kamu, dan dokter tahu kamu yang terbaik untuk anak dokter. Dia kasihan udah pernah ngelamar perempuan namun ditolak karena alasan si perempuan sudah memiliki pasangan yang baru tapi anak dokter masih bersikap keras kalau sebenarnya si perempuan itu tak mengatakan yang sejujurnya.” Curhat si dokter.

“Terus dokter mau buat anak dokter lupa sama perempuan itu lewat aku?”

“Dokter cuma mau dia belajar menerima perempuan lain dan melupakan perempuan yang jelas-jelas tidak memperdulikan perasaannya.”

“Tapi aku cuma seorang pasien dok.”

“Iya tapi kamu pasien istimewa, pokoknya dokter yang ngatur semuanya.”

Aku tak mengerti apa yang dilakukan sang dokter dan mengapa sang dokter menawarkan hal yang menurut ku saja itu adalah hal yang tak mungkin. Apa begitu dalam dokter mengasihani ku hingga mengorbankan anaknya kepadaku? Ntahlah aku tak mengerti dengan semua ini...

Beberapa hari kemudian aku pun kembali kerumah sakit untuk melakukan checkup rutin. Dan tiba-tiba aku merasa seperti melihat sosok dia. Ah.. mungkin ini efek kangen ku saja kepada dirinya.

Dan ketika aku sedang konsul dengan dokter tiba-tiba seorang pria datang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, dan ternyata pria itu adalah dia... benar-benar dia...

“Ah kebetulan kamu kesini, kamu datang tepat pada waktunya. Ini perempuan yang kemarin mama ceritakan beberapa hari yang lalu dan ini anak dokter yang ingin dokter kenalkan sama kamu.” Ujar dokter memecahkan keheningan dan kebingungan kita.

“Kamu...” ujarnya

Aku hanya diam.

“Loh jadi kalian sudah saling kenal, ini yang dinamakan jodoh.”

“Apa betul kamu yang menderita penyakit yang tak bisa disembuhkan itu?”

Dan sekali lagi aku hanya bisa diam.

“Kamu jangan nanya seperti itu dong, maafin dia ya dia emang kalau ngomong suka ngga difikir dulu.”

Aku pun memutuskan untuk berlari dan meninggalkan ruangan itu sebelum aku tak kuasa menahan airmata.

“Berhenti! Kenapa lari? Kenapa kamu ngga jawab semua pertanyaanku?” ujarnya yang terus mengikutiku.

Aku hanya masih membisu dan membiarkan airmataku yang menjelaskan kepadanya.

“Apa ini alasan kamu menolak diriku? Kenapa kamu harus berbohong? Kenapa kamu tak menceritakannya kepadaku?”

“Aku... aku tak ada niat berbohong aku hanya ingin menyelamatkan masa depanmu, aku tak sanggup membuat orang yang kucintai mengetahui apa yang aku alami.” Tangisku pun pecah dipelukkanya.

Dibawah hujan yang sangat deras aku membiarkan airmataku ikut terbawa oleh air hujan, membawa rasa sakitku, membawa segala kegelisahan hatiku. Membiarkan dirinya menghangatkan diriku di dinginnya hujan yang turun saat ini. Dan hari itu semua rahasiaku kepadanya terungkap semua dan mamanya yang ternyata dokterku pun kaget mendengarkan cerita kita berdua...

5 Juli 2015
Dan saat itu tiba... saat dimana seseorang menyerah dengan sang waktu. Saat dimana seseorang tak bisa berbuat apa-apa ketika sang malaikat menginginkan nyawanya. Saat dimana segala macam rasa sakit yang dirasakan menghilang. Saat dimana alat-alat, obat dan dokter tak bisa memperpanjang usianya kembali.

Saat itulah semua rahasiaku terungkap didepan keluargaku dan teman-temanku. Hari itu aku merasakan hujan yang begitu sangat amat deras yang pernah kualami seumur hidupku. Hujan yang membuat segalanya hancur dan meninggalkan bekas yang mendalam. Hujan yang tak akan pernah bisa menghadirkan sebuah pelangi.

Andai aku bisa hidup lebih lama lagi... mungkin sekarang aku dapat berada di tengah-tengah keluarga ku saat ini, tertawa dan melakukan hal gila bersama teman-temanku, merasakan menjadi seorang istri dan ibu di hangatnya keluarga kecilku. Andai Engkau memberiku waktu lebih lama lagi... mungkin aku tak akan membuat orang-orang yang menyayangiku mengeluarkan airmata. Dan andai aku dapat kembali... aku akan menghapus airmata orang-orang yang ku buat menangis. Maafkan aku harus pergi terlebih dahulu dari kalian semua... maafkan aku yang tak mampu berbuat apa-apa ketika malaikat maut menginginkan nyawaku. Maafkan... dan terimakasih telah membuat ku menjadi orang yang berguna di sisa umurku ketika aku dapat membuat kalian semua tersenyum bahkan tertawa... andai aku dapat bertahan di dunia kalian lebih lama lagi....

Dan kamu… Terimakasih atas segala cinta yang telah kamu berikan di sisa usiaku yang tak lama. Terimakasih atas segala macam pengertian, perhatian yang kamu curahkan untuk wanita yang tak mampu menjadi pendamping hidupmu selamanya. Terimakasih atas semua waktu yang indah saat aku masih berada di dunia kamu. Terimakasih telah menghadirkan pelangi yang kubawa hingga mata ini tak bisa melihatnya lagi. Aku akan selalu mencintaimu meski aku tak mampu berada disampingmu. Aku akan selalu ada disaat kamu membutuhkan aku meski aku tak akan terlihat olehmu. Aku sangat mencintaimu dan akan selalu mencintaimu.

Untuk kalian yang dapat hidup lebih lama lagi…
Bersyukurlah atas waktu yang telah Tuhan berikan kepada kalian, nikmatilah setiap nafas yang mampu kalian hirup setiap hari dengan cuma-cuma, jalani setiap hidup kalian dengan langkah yang bermanfaat karena akan ada saatnya dimana kalian akan menyerah dengan waktu, akan ada saatnya dimana apa yang kalian dapatkan dengan percuma dapat hilang begitu saja, dan akan ada saatnya langkah kalian di dunia ini akan berakhir…


Dari yang ingin hidup lebih lama lagi...

Rabu, 18 Juni 2014

Andai aku dapat pulang...

Diposting oleh Unknown di 01.30 0 komentar

10 Juni 2014

Apa yang kamu rasakan ketika divonis tidak akan mempunyai umur yang panjang? Apa yang akan kamu lakukan bila hidup kamu di dunia ini dapat dihitung oleh jari? Apa yang bisa kamu berikan kepada orang lain ketika hidup kamu saja bergantung dengan obat?  Ya... itulah yang aku rasakan sekarang. Dunia ku seakan gelap. Seakan tak ada cahaya sedikitpun di dalamnya. Ini yang membuatku tak menyukai bahkan membenci seorang dokter dan rumah sakit. Seakan hidup ku sangat bergantung dengan semua yang ada disana.


Hari ini dunia ku seakan berhenti berputar. Kamu tahu apa yang dokter katakan padaku? “Kamu menderita kanker kulit yang untuk saat ini belum ada cara pengobatannya, memang secara fisik kamu terlihat sehat karena yang terserang hanya kulitmu, tapi tidak dengan di dalam tubuh kamu, virus-virus itu sudah menjalar keorgan tubuh kamu yang lain dan itu bisa menyebabkan kematian”. Ingin rasanya aku segara bangun dan mengakhiri mimpi buruk itu namun aku sadar ini bukan mimpi tapi ini adalah kenyataan hidupku; takdir.

Aku menyesal. Ya menyesal, telah memeriksakan apa yang telah terjadi kepada tubuhku. Hari ini aku memang sengaja mampir sebentar ke sebuah rumah sakit untuk menanyakan apa yang terjadi pada kulitku. Sudah beberapa tahun ini muncul benjolan-benjolan aneh pada kulit tanganku. Memang awalnya hanya tumbuh satu dan ku fikir tak akan tumbuh lagi. Tapi ternyata aku salah setelah beberapa tahun benjolan itu kembali tumbuh bahkan semakin banyak. Dan akhirnya aku pun mendapatkan sebuah jawaban yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Memang belakangan ini aku sering gampang terserang sakit namun aku tak pernah berpikir kalau ini akibat dari benjolan-benjolan yang ada di tanganku. Tuhan... Engkau begitu indah menuliskan takdirku..

Sepanjang perjalanan pulang aku hanya diam, bengong. Hanya satu yang ada dipikiranku “bagaimana cara aku memberitahu keluargaku? Haruskah aku diam dan tidak memberitahu mereka?” . Aku pun memutuskan untuk saat ini dan mungkin untuk selamanya aku tak akan pernah memberitahu mereka akan penyakitku. Aku akan mencari kerja paruh waktu untuk membeli pil-pil kecil pemanjang usiaku; obat. Meski ku akui harga pil-pil itu terbilang tak murah namun aku akan berusaha agar tak membebani keluargaku.

Aku melakukan aktifitas seperti biasanya walau dengan perasaan yang tak biasa karna aku sudah mengetahui apa yang tersimpan dibalik tubuh mungilku ini. Aku tetap tersenyum, bergembira agar tak ada seorang pun yang mengetahui betapa hancurnya perasaanku saat perkataan dokter kemaren itu aku dengar.

“Aku iri sama kamu, kamu cantik, pintar, baik, supel, selalu tersenyum bagai tak ada beban yang kamu rasakan” ujar salah satu temanku.

Aku pun hanya mampu tersenyum mendengar itu semua walau jujur hatiku menangis. Dia tak tahu bagaimana aku sangat iri dengannya karena memiliki usia yang lebih lama dari ku. Dia tak tahu dia iri dengan orang yang hidupnya sekarang hanya bergantung pada dokter dan resep-resep yang diberikannya. Dia tak tahu seberapa berat beban yang kupikul disisa usiaku di dunia ini. Dia tak tahu... dan tak akan pernah tahu.... karena memang aku menyimpannya sendiri.

Aku memiliki rencana untuk pergi diam-diam dari dunia ini. Berharap tak ada yang pernah tahu dan tak ada yang pernah merasakan hal ini kecuali hanya aku. Aku tak ingin melihat orang-orang menangis karena mereka tahu apa yang aku alami. Aku hanya ingin melihat mereka tersenyum dan tertawa di sisa usiaku.

Setelah mengetahui semua ini aku menjadi seseorang yang selalu iri dengan orang lain. Aku iri dengan teman-temanku yang dapat bergerak bebas tak seperti diri ku yang memiliki porsi tersendiri untuk kegiatan. Jangan kan mengikuti kegiatan tak mengikuti kegiatan pun tubuhku terasa sangat lemah.

Dunia ku menjadi sangat terbatas. Aku tak bisa melakukan hal-hal yang aku inginkan. Memang sudah sejak kecil aku terbiasa pulang pergi ke rumah sakit karena memang aku mudah sakit tapi aku tak pernah berpikir di saat aku sangat ingin melewati masa pendewasaan, aku harus mempunyai penyakit yang serius.

Apa yang kamu rasakan bila menjadi aku kawan? Harus menahan rasa sakit di hadapan semua orang agar mereka tak mengasihani aku. Aku sangat malu bila di perlakukan orang lain layaknya orang yang akan mati esok.

Aku sadar akan penyakitku, akan kelemahanku. Namun jujur aku masih ingin terus melakukan aktifitas layaknya orang sehat. Terkadang aku berpura-pura melupakan apa yang di derita oleh tubuhku meski aku harus menahan rasa sakitnya sendiri. Apa yang bisa aku lakukan untuk orang lain bila hidup ku saja selalu memiliki batasan? Aku ingin melihat senyum orang-orang yang menyayangiku lebih lama lagi Tuhan. Aku ingin terus mejadi alasan mereka tersenyum dan tertawa Tuhan.

Tuhan apa salah ku? Apakah dosa ku terlalu banyak sehingga Engkau memberikan ini semua? Apa Engkau begitu menyayangiku sehingga memberikan ku nikmat yang begitu indah sekaligus sulit? Tuhan jika memang ini semua Engkau berikan untuk menghapus dosa-dosa ku izinkan aku menerima ini dengan ikhlas. Tuhan jika Engkau memang begitu menyayangiku bolehkan aku menjadi sesosok manusia yang tegar?

Sekarang rumah sakit dan obat seakan menjadi kawan hidupku namun tak berarti aku berhenti membenci mereka, aku tetap tak menyukai mereka. Aku menjadi sangat akrab dengan dokter yang menangani penyakitku ini, dia seperti orang tua kedua untukku. Suster-suster bagai menjadi teman-temanku yang setia melayaniku. Dan obat... seakan menjadi makanan favorit ku karena tiada hari tanpa aku menyatap mereka.

Hari ini aku tak sengaja bertemu dengan salah satu seseorang yang pernah menjadi penghuni hatiku dalam waktu yang cukup lama. Dia menanyakan kabarku dan apa saja kegiatanku saat ini. Ingin rasanya aku menceritakan semuanya karena memang terkadang aku merasa perlu membagi kisah ini di saat aku merasa tak cukup tegar untuk melewati ini semua sendiri. Namun aku urungkan niatku, karena aku sadar, dia bukan siapa-siapa aku lagi dan akupun bukan siapa-siapa lagi untuknya.

Dia menanyakan satu hal yang cukup menggelitik telingaku “apa aku membencimu?” tiga kata yang membuat ku tertawa dalam hati. Andai dia tahu apa yang menimpa diriku saat ini apa mungkin dia masih bisa menanyakan hal tersebut?

Membenci. Aku hampir lupa dengan kata itu jika dia tak mengatakannya padaku. Karena untuk saat ini yang aku inginkan hanya kebahagian di sisa usiaku yang tak akan bertahan lama. Andai dia tahu waktu ku terlalu berharga hanya untuk membenci dirinya lebih tepatnya membenci masa lalu kita. Aku merasa sangat bodoh jika harus menghabiskan waktu untuk sebuah kebencian.

Dan hal lain yang membuatku sangat terkejut seseorang yang selama ini ku nanti hadir kembali. Seseorang yang mampu membuatku berdiri tegak sendiri dan mengacukan pria lain yang mencoba mendekatiku. Seseorang yang berhasil memenangkan hatiku semenjak kita kecil.

Hatiku sangat bahagia namun tak bisa dipungkiri pula hatiku pun menjadi sakit. Mengapa kamu baru kembali sekarang? Mengapa disaat aku tahu aku tak dapat bertahan lama lagi di dunia ini kamu hadir kembali? Mengapa tak dari dulu sebelum aku mengetahui segalanya? Mengapa?

Dan kamu datang kali ini bukan hanya untuk sekedar hadir lalu menghilang lagi namun kamu datang dan meminta ku untuk menjadi pendamping hidup kamu selamanya. Selamanya? Maksudmu sampai aku menyerah kepada waktu? Ah.. aku tahu kamu berkata seperti itu karena kamu juga belum mengetahui apa yang aku alami.

Perkataan kamu bagai sihir yang mampu membolak-balik hatiku dalam hitungan detik. Aku merasa sangat bahagia bahkan sangat amat bahagia karena kamu menepati janji dan kesabaran ku berbuah manis. Namun... aku pun merasa sangat amat sedih karena mungkin aku tak akan mampu mendampingi dirimu untuk selamanya.

Aku tak mampu untuk menyiapkan sarapan dan pakaianmu ketika hendak pergi kerja. Aku tak mampu menunggumu pulang kerja dan menyajikan masakan ku ketika malam menjelang. Aku tak mampu berdiri di belakangmu untuk merasakan betapa beruntungnya aku memiliki imam seperti dirimu. Aku tak akan mampu memberikanmu anak-anak yang sangat lincah dan pintar. Aku tak akan mampu menemanimu untuk menghabiskan usia tua dirimu....

“Do you marry me?” ujarmu kepadaku.

Dan aku pun terdiam cukup lama untuk mencerna perkataanmu, menyiapkan beribu satu alasan untuk menolak dirimu dan... menahan airmata ku yang hendak bercucuran ketika aku membohongi perasaanku...

“Maaf aku tak bisa, aku sudah tak mencintaimu lagi, aku sudah mempunyai pria lain yang aku sayangi” ucap bibir ku yang penuh dengan segala kebohongan.

Kalimat itu adalah kalimat terbodoh yang pernah aku ucapkan selama aku hidup. Kamu tahu betapa hancurnya hatiku ketika aku harus mengatakan itu semua? Kamu tahu bagaimana aku mencoba menahan airmataku agar aku terlihat tegar dan seolah-olah tak perduli denganmu? Meski jujur saat itu aku sangat ingin memeluk dirimu dan mengatakan “aku tak akan bisa menolak”.

Apa yang diucapkan bibirku sangat berbeda jauh dengan apa yang ada dihatiku. Bagai langit dan bumi, kalimat itu bagai petir yang menyambar hatiku. Maafkan aku sayang, aku harus membohongi dirimu bahkan membohongi diriku sendiri. Maafkan aku sayang, harus membuatmu meneteskan airmata saat itu dan jika kamu tahu pada saat itu pula hatiku sedang turun hujan dengan sangat derasnya.

Maafkan aku sayang, yang membiarkan mimpi-mimpi kita dahulu menjadi hancur seperti ini.
Jika membohongimu adalah hal yang terbaik untuk menyelamatkan kebahagiaanmu kelak di usia tua, aku ikhlas sayang. Aku ikhlas menukar airmataku dengan senyum di bibirmu ketika kamu menjadi seorang kakek.

Hari itu akan menjadi hariku yang sangat menyakitkan bahkan lebih sakit ketika aku mendapatkan vonis dari sang dokter. Hari itu dan penyakitku sama, sama-sama saling mematikan untuk diriku.

Aku pun menjadi menjauhi dirimu bahkan untuk sekedar membalas pesan singkatmu saja aku tak ingin. Kamu terus menanyakan perihal mengapa aku menolak dirimu dan kamu begitu yakin ada sesuatu hal yang aku sembunyikan. Kamu bilang aku menolak dirimu bukan karena pria lain namun karena aku menutupi sesuatu hal.

Sayang... mengapa dirimu selalu mengerti apa yang tak pernah aku ucapkan? Mengapa kamu selalu mengetahui apa yang ada di otak dan hatiku? Sayang... perilaku mu yang seperti ini yang sejak dahulu selalu membuatku tak bisa jauh dari bayangan dirimu...

Namun untuk sekarang menjauh dari bayanganmu adalah hal yang sangat harus aku lakukan. Aku melakukan ini semua demi dirimu sayang, demi kebahagiaan di masa depanmu. Aku ingin membuatmu melupakanku bahkan membenciku agar kamu dapat membangun masa depan dengan wanita yang mampu mendampingimu selamanya...

Hari berganti hari, dan kesehatanku pun semakin memburuk terlebih dengan apa yang terjadi dengan dirinya membuat diriku semakin tak mengontrol kesehatan. Nafsu makanku mendadak sangat hilang bahkan terkadang obat yang biasa ku santap setiap hari sekarang tak terjamah dengan tanganku.

Kondisi ku yang membuatku harus berada disini. Menghabiskan waktu dengan selang infus. Mengabaikan kewajiban ku sebagai seorang mahasiswa. Dan membuat beban orang tuaku semakin berat. Tapi tetap aku meminta dokter tak memberitahukannya kepada mereka meski awalnya sang dokter tak ingin menuruti permintaanku namun akhirnya dia mengiyakannya mungkin karena dia merasa kasihan dengan diriku ini.

Suatu ketika dokterku menanyakan hal yang sangat aneh, pertanyaan yang lebih mendekati ke masalah hati.

“Kamu ngga punya pasangan?” tanya dokter kepada diriku

“Ngga dok, mana ada yang mau sama aku toh umurku bisa dihitung dengan jari.” Jawabku sekenanya.

“Jangan begitu, kamu cantik, baik, pintar pula mana mungkin tak ada pria yang mau dengan kamu hanya karena masalah penyakitmu.” Bela sang dokter.

“Hahaha dokter bisa aja, aku ngga kepikiran buat nyari pasangan dok.”

“Ngga usah nyari dokter jodohin aja ya sama anak dokter dia seumuran sama kamu.”

“Ah dokter bercandanya ngga lucu, masa iya mau anaknya di jodohin sama orang yang hidupnya aja bergantung sama resep-resep yang dikasih mamanya.” Candaku.

“Dokter ngga bercanda, dokter udah kenal lama siapa kamu, dan dokter tahu kamu yang terbaik untuk anak dokter. Dia kasihan udah pernah ngelamar perempuan namun ditolak karena alasan si perempuan sudah memiliki pasangan yang baru tapi anak dokter masih bersikap keras kalau sebenarnya si perempuan itu tak mengatakan yang sejujurnya.” Curhat si dokter.

“Terus dokter mau buat anak dokter lupa sama perempuan itu lewat aku?”

“Dokter cuma mau dia belajar menerima perempuan lain dan melupakan perempuan yang jelas-jelas tidak memperdulikan perasaannya.”

“Tapi aku cuma seorang pasien dok.”

“Iya tapi kamu pasien istimewa, pokoknya dokter yang ngatur semuanya.”

Aku tak mengerti apa yang dilakukan sang dokter dan mengapa sang dokter menawarkan hal yang menurut ku saja itu adalah hal yang tak mungkin. Apa begitu dalam dokter mengasihani ku hingga mengorbankan anaknya kepadaku? Ntahlah aku tak mengerti dengan semua ini...

Beberapa hari kemudian aku pun kembali kerumah sakit untuk melakukan checkup rutin. Dan tiba-tiba aku merasa seperti melihat sosok dia. Ah.. mungkin ini efek kangen ku saja kepada dirinya.

Dan ketika aku sedang konsul dengan dokter tiba-tiba seorang pria datang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, dan ternyata pria itu adalah dia... benar-benar dia...

“Ah kebetulan kamu kesini, kamu datang tepat pada waktunya. Ini perempuan yang kemarin mama ceritakan beberapa hari yang lalu dan ini anak dokter yang ingin dokter kenalkan sama kamu.” Ujar dokter memecahkan keheningan dan kebingungan kita.

“Kamu...” ujarnya

Aku hanya diam.

“Loh jadi kalian sudah saling kenal, ini yang dinamakan jodoh.”

“Apa betul kamu yang menderita penyakit yang tak bisa disembuhkan itu?”

Dan sekali lagi aku hanya bisa diam.

“Kamu jangan nanya seperti itu dong, maafin dia ya dia emang kalau ngomong suka ngga difikir dulu.”

Aku pun memutuskan untuk berlari dan meninggalkan ruangan itu sebelum aku tak kuasa menahan airmata.

“Berhenti! Kenapa lari? Kenapa kamu ngga jawab semua pertanyaanku?” ujarnya yang terus mengikutiku.

Aku hanya masih membisu dan membiarkan airmataku yang menjelaskan kepadanya.

“Apa ini alasan kamu menolak diriku? Kenapa kamu harus berbohong? Kenapa kamu tak menceritakannya kepadaku?”

“Aku... aku tak ada niat berbohong aku hanya ingin menyelamatkan masa depanmu, aku tak sanggup membuat orang yang kucintai mengetahui apa yang aku alami.” Tangisku pun pecah dipelukkanya.

Dibawah hujan yang sangat deras aku membiarkan airmataku ikut terbawa oleh air hujan, membawa rasa sakitku, membawa segala kegelisahan hatiku. Membiarkan dirinya menghangatkan diriku di dinginnya hujan yang turun saat ini. Dan hari itu semua rahasiaku kepadanya terungkap semua dan mamanya yang ternyata dokterku pun kaget mendengarkan cerita kita berdua...

5 Juli 2015
Dan saat itu tiba... saat dimana seseorang menyerah dengan sang waktu. Saat dimana seseorang tak bisa berbuat apa-apa ketika sang malaikat menginginkan nyawanya. Saat dimana segala macam rasa sakit yang dirasakan menghilang. Saat dimana alat-alat, obat dan dokter tak bisa memperpanjang usianya kembali.

Saat itulah semua rahasiaku terungkap didepan keluargaku dan teman-temanku. Hari itu aku merasakan hujan yang begitu sangat amat deras yang pernah kualami seumur hidupku. Hujan yang membuat segalanya hancur dan meninggalkan bekas yang mendalam. Hujan yang tak akan pernah bisa menghadirkan sebuah pelangi.

Andai aku bisa hidup lebih lama lagi... mungkin sekarang aku dapat berada di tengah-tengah keluarga ku saat ini, tertawa dan melakukan hal gila bersama teman-temanku, merasakan menjadi seorang istri dan ibu di hangatnya keluarga kecilku. Andai Engkau memberiku waktu lebih lama lagi... mungkin aku tak akan membuat orang-orang yang menyayangiku mengeluarkan airmata. Dan andai aku dapat kembali... aku akan menghapus airmata orang-orang yang ku buat menangis. Maafkan aku harus pergi terlebih dahulu dari kalian semua... maafkan aku yang tak mampu berbuat apa-apa ketika malaikat maut menginginkan nyawaku. Maafkan... dan terimakasih telah membuat ku menjadi orang yang berguna di sisa umurku ketika aku dapat membuat kalian semua tersenyum bahkan tertawa... andai aku dapat bertahan di dunia kalian lebih lama lagi....

Dan kamu… Terimakasih atas segala cinta yang telah kamu berikan di sisa usiaku yang tak lama. Terimakasih atas segala macam pengertian, perhatian yang kamu curahkan untuk wanita yang tak mampu menjadi pendamping hidupmu selamanya. Terimakasih atas semua waktu yang indah saat aku masih berada di dunia kamu. Terimakasih telah menghadirkan pelangi yang kubawa hingga mata ini tak bisa melihatnya lagi. Aku akan selalu mencintaimu meski aku tak mampu berada disampingmu. Aku akan selalu ada disaat kamu membutuhkan aku meski aku tak akan terlihat olehmu. Aku sangat mencintaimu dan akan selalu mencintaimu.

Untuk kalian yang dapat hidup lebih lama lagi…
Bersyukurlah atas waktu yang telah Tuhan berikan kepada kalian, nikmatilah setiap nafas yang mampu kalian hirup setiap hari dengan cuma-cuma, jalani setiap hidup kalian dengan langkah yang bermanfaat karena akan ada saatnya dimana kalian akan menyerah dengan waktu, akan ada saatnya dimana apa yang kalian dapatkan dengan percuma dapat hilang begitu saja, dan akan ada saatnya langkah kalian di dunia ini akan berakhir…


Dari yang ingin hidup lebih lama lagi...

About

blogspot tutorial,blog,tips blogging

Blogroll

My Blog List

Blogger templates

Blogger news

 

My World Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review